Minggu, 07 April 2013

Surau itu…



Dulu, semasa ku masih duduk di bangku MI, surau itu cukup ramai, dan menjadi surau yang paling ramai se-Dukuhan. Ketika malam sehabis isya’, ku bersama teman-teman sebayaku, yang waktu itu masih banyak personel, dengan semangat yang tinggi berbondong-bondong datang ke surau itu. Demi agar bisa membaca kitab Al-Qur’an. Lancar atau tidak bacaan kami, kami tetap rutin mengeja satu per satu, kata per kata, kalimat per kalimat dari rangkaian huruf Al-Qur’an.

Guru ngaji kami yang tak lain adalah bu dhe dan ibuku sendiri, dengan begitu sabar menuntun kami agar bacaan kami menjadi lancar. Jikalau bu dhe ku yang mengajar, maka kami akan sangat senang dan tenang, lantaran kesabaran dan ketelatenan beliau dalam menghadapi kami. Jika kesempatan ibuku yang mengajar kami, maka kami akan merasakan sedikit ketakutan, lantaran karakter ibuku yang memang ku akui sedikit galak dan tegas dalam mengajar, namun tetap telaten. Dan akhirnya sifat itu –galak dan tegas- kini diwariskannya kepadaku.

Masih ku ingat beberapa teman ngajiku kala itu, ada mbak Sri, mbak Utami, Umi, Lia, Misbah, Edi, Yudi, dsb. Kini rata-rata dari mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak, walaupun belum semua.

Ketika malam Jum’at, sejak kecil kami sudah dididik untuk mengikuti kegiatan tahlilan dan yasinan di surau itu. Kami menurut saja. Apalagi setiap kali selesai acara, selalu ada sajian-sajian yang diberikan dari warga sekitar. Terkadang berupa ambeng atau tumpeng, yaitu semacam nasi yang telah disajikan sedemikian rupa dalam sebuah nampan besi ataupun kayu. Terkadang juga berupa kue-kue tradisional semisal onde-onde, nagasari, pisang rebus, ataupun berupa snack-snack ringan dalam kemasan.

Setelah tahlilan selesai, tak segan-segan kami segera mengepung sajian itu beramai-ramai, dan kami pun memakannya secara bersama-sama, sembari menunggu adzan isya’ berkumandang.

Itu kegiatan yang kami ikuti setiap malam jum’at. Nah, ketika hari jum’at tiba, pagi sekitar pukul 8 atau 9, aku dan teman-teman berbondong-bondong untuk berkumpul di surau itu lagi, dengan masing-masing kepala membawa satu buah kain atau baju bekas yang akan kami gunakan sebagai kain pel. Ya, hari jum’at kami agendakan untuk mengepel surau kami tercinta. Tak ada instruksi dari siapapun, entah dari guru ngaji kami, imam sholat di surau itu, atau ketua RT, apalagi kepala desa. Itu semua inisiatif kami sendiri, sebagai ungkapan rasa sayang kami terhadap surau itu.

Waktu itu, surau itu belum memiliki kamar mandi dan tempat berwudlu. Kami mengambil air untuk me-ngepel, dengan menimba air dari rumah salah satu teman kami; Misbah, yang tak lain adalah putra dari imam di surau itu. Ya, waktu itu sumur masih sangat banyak di desa kami. Tak ada kesulitan yang kami rasakan, yang ada justru malah senang.

Setelah menimba air dari sumur, kami pun mengepel surau itu. Dengan menggunakan senjata kain bekas di tangan masing-masing, kami pun berbasah-basahan ria dan berlarian kesana kemari, sambil mendorong kain pel kami dari bagian imam-an sampai teras surau. Tak jarang lutut kami pun menjadi lecet-lecet, lantaran tergores keramik surau yang sudah retak-retak. Tapi hal itu tak sedikitpun mengurangi semangat kami. Setelah selesai, maka kami segera pulang ke rumah kami masing-masing untuk bebersih diri.

Berbeda lagi tradisi ketika bulan Ramadhan tiba. Dengan berbaris di bagian paling belakang, kami dengan penuh semangatnya, tak pernah absen mengikuti shalat tarawih dan tadarus di surau itu, dari rakaat pertama, sampai rakaat ke-20. Akan tetapi, itu terjadi ketika hari-hari awal dan akhir saja. Ketika pertengahan, kami sering bermalas-malasan. Jadi, kami mengikuti shalat tarawih dengan melobanginya satu persatu, rakaat pertama ikut, rakaat kedua tidak, ketiga ikut, keempat tidak, dan seterusnya. Sering kami mendapat marah dari orang-orang tua, ketika tak sengaja kami ramai. Tapi kami tak menggubrisnya. Yah, namanya juga anak-anak, wajar saja kan? Yang penting mereka sudah mau ikut saja, itu sudah cukup baik karena akan menjadi bekal dalam prosesnya menapaki kedewasaannya kelak. J

Ketika siang Ramadhan, karena sekolah kami libur -berbeda dengan sekolah jaman sekarang yang liburnya hanya separo dari bulan ramadhan, bahkan ada yang tak ada liburnya sama sekali-, maka kami memanfaatkan waktu siang itu untuk bermain karet atau dakon di surau itu. Ya, permainan tradisional yang nampaknya sekarang sudah tidak ada lagi, alias sudah musnah. Jelas saja, anak-anak sekarang mainannya sudah sangat keren, game dari HP, PS, ataupun i-pad , tab, dan sejenisnya. Berbeda dengan zaman kami kala itu. Maka hiburan kami hanyalah dengan bermain karet, dakon, terkadang juga petak umpet, dsb. Sederhana memang, akan tetapi kami sangat menikmatinya. Dan, ku merasa bersyukur karna masih menangi masa-masa seperti itu. karena dari permainan-permainan semacam itu, secara tak langsung dapat memberikan bekal jiwa sosialis kepada kami. Sebuah pelajaran bagaimana kami dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman-teman sebaya, yang nantinya sedikit banyak akan memperngaruhi dalam proses bersosialisasi dan berkomunikasi dengan masyarakat ketika dewasa. Berbeda dengan permainan macam sekarang, yang menurutku lebih banyak memberikan dampak negatif kepada anak daripada dampak positif.

Permainan itu kami laksanakan sampai adzan dzuhur berkumandang. Ketika sudah masuk waktu shalat dzuhur, maka kami segera pulang ke rumah masing-masing untuk bebersih diri dan mengikuti shalat dzuhur berjama’ah di surau itu, karna setelah dzuhur, kami harus mengikuti kajian kitab dan program khataman Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. Kitab yang kami kaji waktu itu adalah kitab safinatun naja.

Ketika sore tiba, kami pun kerap bermain tenis atau bulu tangkis di halaman surau itu. Jika agenda mengaji di TPQ sedang llibur tentunya.

Malam harinya, kami secara berurutan, bergantian dan tertib mengikuti tadarus di surau itu. Dan ketika malam hari raya tiba, maka kami pun akan begadang di surau itu dengan tak henti-hentinya mengumandangkan takbir melalui microphone yang terpancar dari surau itu. Perayaan malam hari raya kami pun menjadi semakin meriah, lantaran tak sedikit dari kami yang mengumandangkan takbir sembari klotek’an, memukul-mukul kendang atau potongan bambu sederhana yang kerap digunakan oleh para kaum bapak dalam ronda malamnya, sebagai alat memanggil para warga ketika terjadi sebuah peristiwa janggal seperti kemalingan.

Itu dulu. Sekarang?

Kondisinya cukup memprihatinkan, karena semua itu sudah tidak ada. Bahkan anak-anak kecil yang mengaji di surau itu pun hanya tinggal satu-dua saja yang masih bertahan. Entah apa yang mereka kerjakan, dan apa yang ditanamkan oleh orang tua zaman sekarang. Dan entah, kondisi seperti itu –surau sepi- hanya terjadi di surau dekat tempat tinggalku, atau terjadi pada hampir seluruh surau masa kini. Entah..

Semoga kaum muda sekarang, masih ada yang tergerak hatinya untuk menghidupkan surau kembali..



Bojonegoro, 08 April 2013

Ah, ‘kita’ masih saja seperti dulu…



“kalo lagi boncengin kamu kaya gini, aku jadi inget yang dulu-dulu yu…”

Itulah percakapan awal yang muncul dari mulut, sekaligus mungkin hati dia. Ku biasa menyapanya dengan ‘kang’, dan dia pun memanggil aku dengan ‘yu’. Panggilan akrab kami sejak beberapa tahun lalu.

Ku hanya tertawa saja tatkala mendengar dia berucap itu, dan ku imbangi dia dengan berkelakar tak jelas tentang kami di masa lalu. Entah apa saja yang ku kelakarkan, aku sudah tak mengingatnya.

Gerimis hujan yang mengguyur kala maghrib itu, tak terasa semakin menyeret kami untuk bernostalgila dengan masa lalu kami. Masa lalu yang cukup menyakitkan sebenarnya, kalo mesti diungkit-ungkit kembali.

Sebelumnya, telah ku relakan saja jaketku untuk ku serahkan kepadanya, agar dia tak kedinginan. Dan ku relakan saja tubuhku diserang angin malam dan dingin hujan kala itu. Demi dia. Tapi kemudian rasa dingin itu hilang seketika, tatkala ku melihat dia mengenakan jaketku, betapa senangnya aku. Ah, ternyata aku masih begitu perhatian dan masih saja selalu mau ‘ngalah’ demi dia.

Jalanan penuh lubang sekaligus becek dengan genangan air tumpahan hujan berwarna kecoklat-coklatan, seakan menjadi saksi percakapan kami kala senja mulai merangkak menuju malam itu. Cairan kecoklat-coklatan dari jalanan itupun meloncat-loncat ke sandal dan celana yang kami kenakan. Membuatnya menjadi kotor. Tak hanya becek sebenarnya jalanan desa yang harus kami lalui, tapi cukup licin dan berlubang juga, sehingga membuatku tergerak untuk menancapkan tangan kiriku ke pundaknya agar tak terjatuh. Hanya tangan kiri saja, karna tangan kananku waktu itu kugunakan untuk menjaga tubuh kami berdua agar tak basah kuyup dengan payung biru berlukiskan bunga-bunga.

Berboncengan berdua di atas kuda ‘smash’ dan berpayungan berdua di tengah gerimis hujan tatkala senja sore beranjak malam. Romantis sekali bukan? ^_^

Ah, sepertinya hal itu –memegang pundaknya agar tak terjatuh- kulakukan, hanya alibiku saja untuk semakin merasakan kedekatan dengannya. Walaupun itu bukan pertama kali ku lakukan tatkala dia memboncengku.

Gara-gara peristiwa itu, rasa aneh antara senang bercampur nyaman berdesir kembali ke relung hatiku, dan mungkin juga dia. Wajar, karna bagaimanapun dia pernah menjadi orang yang ku sayang sekaligus ku benci semasa sekolah dulu. Walaupun terkadang rasa dendam lantaran sakit hati masih suka mencari posisi terdepan, agar segera ku lemparkan kepadanya. Rasa dendam yang sampai saat ini belum juga hilang sepenuhnya, lantaran dari dulu dia sampai sekarang dia tak pernah berhenti mempermainkan hatiku.

Tapi ku tetap menghargai dia sebagai sahabatku. Ku masih baik hati, dan seakan memang tak bisa menyayangi orang lain seperti rasa sayangku ke dia. Ku katakan dengan tegas dan lantang, bahwa aku masih begitu menyayangi dia. Tapi, rasa sayangku ke dia ku arahkan kepada rasa sayang antar sahabat, karna ku fikir rasa sayang antar sahabat itu lebih tulus dan awet daripada dengan pacar, walaupun tidak sepenuhnya benar.

Dan akupun mengabadikannya ke dalam nama mainanku, “nieza”. Ya, nama itu memang sengaja ku susun sebagai perpaduan antara namaku dengan namanya. Dan, tak ada yang tau memang tentang itu, kecuali aku sendiri, dan Tuhan tentunya. Oh aku lupa, ternyata dia juga sudah ku beritahu perihal itu. Belum lama, belum ada setahun yang lalu ku memberitahukannya akan hal itu.

Sampai saat ini dan sampai kapanpun, sepertinya ku akan tetap memakai nama itu. Tak ada maksud lain sebenarnya, hanya aku begitu suka saja pada nama itu. nama yang cukup manis dan bersejarah. Dan biar ku merasa tetap selalu dekat dengan dia.

Sebenarnya aku tak boleh begini terus menerus, karna hal ini hanya akan semakin memperkeruh keadaan batinku saja. Dan hal itu hanya akan membuatku selalu, selalu, dan selalu serta semakin, semakin dan semakin mengingat kenangan kami.

Terkadang juga muncul kekhawatiran, bahwa hal itu akan membuatku nantinya tak bisa membuatku mencintai suamiku sepenuhnya. Walaupun tak ada yang tau memang, siapa suamiku dan istrinya kelak. Bisa saja dia yang akan menjadi suamiku, dan aku menjadi istrinya kelak. Toh saat ini kami masih sama-sama ‘galau’ perihal pasangan kami masing-masing. Tapi ku rasa itu sebuah kemustahilan.

Ah, kita masih saja sama-sama belum dewasa ya kang. Tapi semoga penyakit kita ini nantinya akan sembuh dengan sendirinya. Atau malah semakin parah?

Tapi ku ingin mengatakan sesuatu padamu pagi ini, “ku ingin boncengan lagi bersamamu kang…” *_*



Bojonegoro, 07 April 2013

Kamis, 04 April 2013

Security Berkuping Satu



Dengan mengenakan celana batik dan jaket berwarna putih blesteran biru muda, ku lihat Shofi mondar-mandir di depan kamarnya. Entah apa yang sedang dikerjakannya, sepertinya memang dia sedang kebingungan.

“kamu kenapa? Sakit?”

Tanyaku kepadanya ketika baru saja ku injakkan kaki di kost. Pertanyaan itu terlontar secara spontan saja, lantaran melihat kostumnya yang mengenakan jaket rada tebal di tubuhnya, pemandangan yang biasanya terjadi pada orang yang sedang sakit.

nggak kok, cuma bingung aja

Jawabnya, sembari masuk ke kamar sebelahnya yang bernomor 07, untuk nimbrung dengan anak-anak kost lain yang sedang asyik nonton televisi.

Sejurus kemudian, dia menceritakan bahwa dia jadi geli sendiri, karena seekor kucing telah tidur dengan nyenyak di kasurnya ketika dia sedang keluar.

Ya, sudah sekitar satu bulan ini, ku perhatikan memang ada security baru di kost yang baru ku tempati belum genap setahun ini. Security itu tak pernah lelah, karena setiap waktu –terutama malam, dia selalu berjalan mondar-mandir di lorong kost, entah berapa puluh kali. Dia adalah seekor kucing jantan liar berukuran sedang, berbulu putih, dengan blasteran orange keemasan sedikit pada badannya. Tidak terlalu kotor sebenarnya, tapi memang ada sedikit keganjilan pada tubuhnya yang membuat orang sedikit merinding, yaitu dia hanya memiliki satu kuping. Kucing yang berbau mistis, begitulah kesanku ketika pertama kali melihatnya

Masih ku ingat juga kejadian beberapa hari lalu. Pagi hari, ketika sedang asyik memelototi layar laptop, ku dengar suara kresek-kresek, suara yang timbul dari sebuah plastik hitam yang sedang berusaha dibuka untuk dimasuki sesuatu ke dalamnya, atau sesuatu sedang berusaha dikeluarkan darinya.

Dan benar saja, ketika ku longokkan kepalaku keluar melalui jendela, ku dapati si kuping satu itu sedang begitu bersemangat meng-orak-arik sampah di depan kamarku. Dia berusaha mengais sisa-sisa tulang ikan lele yang menjadi santapanku semalam. Ah, kasian sekali. Ya sudah, lalu ku biarkan saja dia menyelesaikan sarapannya pagi itu dengan nikmat. Walaupun meninggalkan sampah yang bercecer-cecer tak keruan di depan kamarku, sehingga membuat lantai kost yang semula berwarna putih, kemudian menjadi putih dengan bercak-bercak warna coklat yang berasal dari kaisan sampah hasil kreasi si kuping satu itu.

Ku masukkan lagi kepala dan badanku ke kamarku, demi meneruskan pekerjaanku pagi itu. beberapa menit kemudian, ku longokkan kembali kepalaku melalui jendela, dan tak ku dapati si kuping satu itu berada di situ. Berarti dia sudah meneruskan kembali ‘jihad’nya mencari makanan, pikirku. Segera ku ambil sapu dan kain pel, untuk membersihkan sampah uraian si kuping satu itu.

“aku mau beli sprai baru ah, risih aku”

Terdengar suara Shofi memberikan kesimpulan akhir dari proses panjang curhatnya, yang sontak membuyarkan lamunanku terhadap si kucing itu. Kemudian, ku tawarkan diriku untuk menemaninya membeli sprai baru.

Detik itu juga ku lihat shofi mengemasi sprai yang melekat pada kasur busa tipisnya itu. dan pada malam itu juga, dia memacu kuda mesinnya menuju sebuah supermarket terdekat dari tempat kami, untuk mencari satu barang; sprai baru.

Ku temani saja dia, dan setelah beberapa menit berkeliling, akhirnya kami berhasil menemukan sebuah sprai berwarna biru dan bermotif Doraemon, di sebuah rumah sederhana di gang sempit sudut kota.


Beberapa hari berikutnya

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” terdengar sebuah lengkingan yang begitu mengagetkan di malam itu.

Aku dan teman-teman yang baru saja merebahkan tangan setelah makan, segera berjalan menuju sumber jeritan tersebut. Ternyata itu hasil jeritan Riris –salah satu penghuni kos, tatkala melihat seekor kucing yang dengan santainya dan tanpa rasa berdosa sama sekali, tidur di atas kasurnya, dengan posisi telentang.

Seketika tawaku dan teman-teman pecah melihat kejadian itu, sehingga membuat situasi kost malam itu menjadi sedikit gaduh. Bercampur aduk antara tawa penghuni kost, juga ratapan sedih Riris lantaran rasa gelinya yang belum hilang itu.

Belum reda juga emosi dan ratapannya, kemudian diambilnya handphone pada saku celananya. Setelah mencari kontak yang ditujunya, segera ia arahkan handphone-nya itu ke telinga. Dan, dimulailah percakapan dengan ‘ojob’nya itu..

“aduh yankmasa kamarku habis dimasukin kucing coba, mana dia tidur di kasurku lagi. Udah gitu kucingnya njijik’i banget e, sukanya ngorek-ngorek sampah, eh barusan malah tidur di kasurku”

Terdengar rengekan panjang dan manjanya itu kepada ojobnya. Mendengar itu, ku arahkan mataku kepada teman-teman di sekelilingku. Alamaaak Dan dengan menggunakan bahasa isyarat, mata kami semua pun saling berpandangan heran dan ingin rasanya tepok jidad mendengar rengekan yang sedikit alay itu.

Terdengar lagi perckapannya,

“iya nggak tautadi aku lupa nutup pintu kamar soale

Tebakanku, mungkin saja ojobnya menanyakan kronologis kenapa kok kucingnya bisa bertengger di kasurnya itu.

Kembali ku tarik kedua mataku untuk ku tabrakkan secara paksa, dengan mata teman-temanku. Dan kami pun kembali berbicara dengan bahasa isyarat mata. Sambil dalam hati berteriak, Gusti. alay sekali ni anak.

Setelah itu, ku lihat dia menutup edisi curhatannya dengan sang ojob via telpon, dengan masih memanyunkan bibirnya lantaran rasa kesalnya yang belum juga hilang, walaupun telah menelpon sang pujaan hati.

“sudah nggak papa, orang cuma kucing doang to. Segera ambil sprai-mu itu, kemudian rendam dan cuci besok kalo emang masih geli. Biar segera bersih”

Dengan sedikit rada jengkel melihat tingkahnya yang bagiku sedikit alay, ku katakan hal itu kepadanya. Mencoba memberi saran sebijak mungkin. Bagaimanapun, naluriku masih bergerak meskipun hanya kepada seekor kucing liar berkuping satu itu. Dan masih cukup terngiang juga di telingaku, salah satu kandungan NDP (Nilai Dasar Pergerakan) salah satu oraganisasi yang telah ku geluti cukup lama, yang mengajarakan kita untuk menjaga hablun minal ‘alam (menjaga tali kasih sayang terhadap alam). Hewan termasuk bagian alam bukan?

Toh kejadian itu juga bukan kesalahan hewan seutuhnya. Manusia juga turut serta menyumbangkan kesalahannya dalam hal ini. Kembali ku katakan kepadanya:

“makanya, kalo keluar tu pintu mbok yo ditutup, kalo emang gak mau ditiduri kucing lagi”

“tadi cepet-cepetan e mbak Ira kilahnya.

“ya sudah, berarti memang tuh kucing niat menjelajahi semua kamar. Kamarku udah, shofi udah, Siti juga udah. Nah, sekarang giliran kamu

Sembari tertawa ku katakan hal itu kepadanya.

“lagian njijik’i banget e mbak kucingnya itu, udah hobinya mengorek sampah, trus suka masukin kamarnya orang sembarangan lagi”

“ya ampun Ris Kok segitunya sih kamu marahnya. Mana dia paham juga masalah etika dan moral, namanya aja kucing. Jalan satu-satunya buat dia mendapatkan makanan kan dengan membongkar sampah to? Ya kalo emang gak pengen dia membongkar seluruh isi sampah demi untuk mengisi perutnya, mari kita semua patungan, dan berikan dia makanan rutin setiap hari. Trus juga kita buatin rumah dan sediain kasur buat dia, biar dia gak masuk kamar orang sembarangan”

idih, ogah banget lah mbak. Orang buat makan sehari-hari aja ngepas. Gimana mau ngingoni kucing”

“nah lho, ya sudah kalo gitu jangan salahkan kucing itu. kalo emang kita gak bisa berikan dia makanan rutin, minimal sisain lah sedikit buat dia ketika kita makan, dan kita juga kudu bisa mengatur emosi kita, jangan asal marah-marah doank, tapi tanpa memperbaiki keadaan. Bagaimanapun dia juga berhak hidup lho Ris, dan salah satu jalannya buat bertahan hidup ya makan. Sekarang aku Tanya, dia mau dapat makan dari mana coba kalo gak ngorek-ngorek isi sampah? Gak ada kan?”

“iya juga sih mbak

Ku perhatikan dia terlihat sedikit tertunduk dan sedikit lebih tenang sambil mungkin merenungi akan kesalahannya dari kejadian malam itu.


***


Jogja, 04 April 2013

Rabu, 03 April 2013

Cak Nun: Agama Masyarakat Itu Sebenarnya Harus Telo, Bukan Gethuk atau Kripik



Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi bekas kerajaan Mataram (baca: Yogyakarta) ini tak sedikitpun menghalangi semangat para Cak Nunian (pengagum Cak Nun dan Kiai Kanjeng), untuk sekedar memacu kuda mesinnya menuju Masjid Jami’ At-Taqwa Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, demi mendapatkan kehangatan bathiniyyah lantaran petuah-petuah Cak Nun dan juga tembang-tembang yang disenandungkan oleh Kiai Kanjeng yang memang memiliki sengatan listrik yang bisa membuat jiwa orang kesetrum (kena sengatan listrik).
Acara ini dihelat oleh Pengurus Ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa, dengan mengangkat tema “Ashabul Kahfi Ada di Masjid Jami’ At-Taqwa: Istiqamah di Sahara Kehidupan Modern”. Jum’at, 29 Maret 2013, sekitar pukul 20.00 WIB, acara pun dibuka oleh MC yang membawakan acara secara semi formal. Setelah sambutan oleh ketua ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa; Prof. Dr. Edi, juga oleh Bupati Sleman, acara dimeriahkan oleh penampilan Kiai Kanjeng dengan membawakan tembang perdana “Hasbunallah wa ni’mal wakil”. Para penonton yang terdiri dari segala macam usia -mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, juga dari berbagai kalangan –akademisi, mahasiswa, petani, pejabat, dsb- yang memadati halaman luas masjid Jami’ At-Taqwa ini pun terlihat begitu menikmati dan menghayati alunan musik yang dibawakan Kia Kanjeng.
Setelah beberapa saat, tibalah sang Maestro yang telah ditunggu-tunggu, “Cak Nun”. Dengan mengenakan pakaian serba putih dari ujung atas sampai ujung bawah, Cak Nun mulai menyampaikan pesan-pesannya. Ia memulai dengan menyampaikan sebuah ilusrasi yang cukup menarik, tentang agama Islam dan golongan-golongan yang ada di dalamnya.
Cak Nun mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang terkadang begitu fanatik terhadap golongan/aliran yang dianutnya, seperti NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb. Sehingga dari kefanatikan itu memunculkan tindak kekerasan yang kerap terjadi sesama muslim. Kemudian Cak Nun pun mengilustrasikan agama Islam laksana Telo (sejenis umbi-umbian) yang bisa menghasilkan berbagai aneka menu, seperti Gethuk, Kripik, dsb. Nah, Telo diibaratkan sebagai agama Islam murni, dan Gethuk, Kripik diibaratkan aliran-aliran yang muncul dalam Islam. Nah, kebanyakan orang memang menganggap bahwa NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb itu sebagai agama mereka, padahal sebenarnya semua sama-sama Islam. Itulah pentingnya menjunjung tinggi pluralisme.
Maka Cak Nun pun melontarkan pertanyaan kepada para pengunjung yang berdekatan dengan panggung, dengan berbahasa Jawa, “la seng agama iku lak seng Telone to bu’ nggeh, ora kok Gethuk lan Kripik iku? La wong saiki iki, seng sering nganggep agamane iku Gethuk lan Kripik iku, padahal asline kan Telo” (La yang agama itu kan yang Telo-nya kan bu’ ya, bukan kok Gethuk dan Kripik? La orang sekarang itu sering menganggap agamanya itu Gethuk dan Kripik itu, padahal aslinya kan Telo). Sontak para hadirin pun tertawa mendengar ilustrasi Cak Nun yang terkesan aneh, lucu namun sarat akan makna tersebut.
Tembang-tembang pun mengalir dari tangan-tangan para anggota Kiai Kanjeng, seperti syi’ir tanpa wathon, gelandangan, dsb, mengiringi jalannya pengajian yang selesai sekitar pukul 00:00 malam tersebut.
  
20 pesan selanjutnya

Selain menyampaikan tentang Telo, dkk tersebut, dengan kemasan bahasa Indonesia dan Jawa, dan dengan ciri khasnya yang terkesan slengek’an dan seperti ocehan ngawur namun sarat makna itu, Cak Nun juga menyampaikan beberapa pesan yang penting kepada para hadirin. Paling tidak ada 20 pesan yang berhasil ku rangkum. 

Pertama, Kita harus bisa memilih dan memilah, mana perkara yang harus kita masukkan dalam otak, hati, dan tangan itu. Jangan sampai salah tempat.

Kedua, Orang yang diinjak-injak dan kere (miskin) itu terkadang lebih bermanfaat.

Ketiga, Wong iku oleh duwur –pangkate, tapi gak oleh nduwuri wong (orang itu boleh saja berpangkat tinggi, tapi nggak boleh menganggap remeh orang). Sebuah kritik terhadap para pejabat-pejabat yang terkadang sering meremehkan dan menyepelekan orang yang ada di bawahnya.

Keempat, Manusia itu bukan makhluk permanen, artinya dia bisa baik dan kadang juga bisa buruk. Jadi, jangan khawatir jika kita dicap buruk oleh orang.

Kelima, Tawakkal bisa dimaknai secara sederhana seperti ini; “mengurusi hal yang bisa diurus, dan kalau ada hal yang nggak bisa diurus, pasrahkanlah kepada Allah”. Artinya, kita cukup mengurus perkara yang sudah konkrit dan ada di depan mata saja. Perihal perkara yang masih belum jelas dan masih abstrak, cukup pasrahkan saja urusannya pada Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambaNya.

Keenam, Setiap orang itu punya fadhilah (keutamaan). Jadi jangan minder dengan diri sendiri.

Ketujuh, Orang itu selalu melihat yang tinggi, dan menganggap bahwa yang tinggi dan berada di atas, itulah yang terbaik dan mulia. Padahal bukan seperti itu, karena semua sudah ada porsi dan jatahnya masing-masing. Contohnya saja, burung bisa terbang tinggi ke atas itu ya karna memang sudah kodratnya dia bisa begitu. Karna kan dia punya sayap. Makanya keliatan pantas dan baik. La sekarang, coba bayangin bagaimana kalau ayam, harimau, yang emang kodratnya berjalan di bawah –daratan, tapi disuruh terbang? Lantaran asumsi yang beredar bahwa yang terbang tinggi dan di atas itu baik. Apa nggak tambah menyeramkan dan menghawatirkan tuh? Itu baru ayam sama harimau. Coba kalau badak sama gajah yang terbang? :D

Kedelapan, Wajah itu perwakilan dari seluruh diri kita. “sing ngentut silite, tapi sing diwudhu-ni wajahe” (yang kentut dubur-nya, tapi yang diwudhu-in wajahnya). Kenapa? Ya karna orang itu menilai dari wajah kita kan, dan nggak mungkin dari dubur atau bagian anggota tubuh lain –selain wajah? :D

Kesembilan, Cahaya itu hanya terlihat di dalam kegelapan, bukan di tempat yang terang benderang. Artinya, ketika kita tidak masuk ke catatan ‘buku hitam’ yang penuh kegelapan dulu, mustahil kita akan tau dan mendapatkan penerangan (cahaya).

Kesepuluh, Pencipta lagu “syi’ir tanpa wathon” yang selama ini diklaim diciptakan oleh Gus Dur pun diluruskan oleh Cak Nun. Dikatakan bahwa sebenarnya yang menciptakan lagu itu adalah Kiai Sahlan dari Krian, Sidoarjo pada tahun 1950-an. Dan syi’ir itu muncul lantaran untuk menyaingi lagu ludruk yang sedang tenar waktu itu. hal ini disampaikan, tepat sebelum Kiai Kanjeng beraksi dengan membawakan tembang syi’ir tanpa wathon.

Kesebelas, “Jawa ayo digawa, Arab digarap, Barat diruwat” (Budaya Jawa mari kita bawa, Arab dikerjakan, Barat dipelihara). Sebuah pesan yang singkat, padat, jelas dan sarat makna tentang pentingnya menjaga budaya daerah dan Nusantara, tanpa menolak mentah-mentah juga terhadap budaya asing yang masuk. المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح”.

Keduabelas, perihal tema acara itu –Ashabul Kahfi, Cak Nun menyampaikan agar jangan sampai ada gua ashabul kahfi lagi di zaman sekarang. Pemuda ashabul kahfi yang ditidurkan oleh Allah, itu merupakan gambaran para pemuda yang tetap kekeh menjaga imannya, lantaran khawatir akan terseret situasi modernitas yang ada di dunia. Makanya mereka memilih untuk menyendiri dalam gua yang kemudian ditidurkan oleh Allah selama 300 tahun, ditambah 6 tahun.

Ketigabelas, Sunan Kalijaga itu peranannya paling banyak adalah dalam hal peralihan perpolitikan (dari Majapahit-Demak-Pajang-Mataram). Hal ini disampaikan Cak Nun, ketika beliau menceritakan bahwa orang-orang terkadang ada yang nyeletuk, dengan mengatakan bahwa ia adalah jelma’an dari Sunan Kalijaga. J

Keempatbelas, Ibadah itu yang mahdhah (wajib, murni) hanya 3,5%, sisanya 96,5% itu adalah mu’amalah.

Kelimabelas, Makin dekat seseorang dengan seseorang yang lain, maka semakin tidak ada etika di antara keduanya.

Keenambelas, Pelurusan antara Al-Qur’an dan Mushaf. Al-Qur’an yang asli dan terjaga itu berada di lauh mahfudz. Sedangkan yang ada di hadapan kita sekarang itu adalah mushaf.

Ketujuhbelas, Bid’ah itu hanya ada dalam ibadah mahdhah saja, bukan pada ibadah mu’amalah. Hal ini disampaikan, ketika ada salah satu ibu-ibu yang menanyakan tentang bid’ah kepada Cak Nun.

Kedelapanbelas, Kebohongan itu terkadang penting, pada saat-saat tertentu saja.

Kesembilanbelas, Pilihan hidup itu ada tiga: ijtihad, ittiba’, atau taqlid. Kita pilih sesuai kapasitas diri kita.

Keduapuluh, Jangan sampai ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi kedekatanmu dengan Allah.


Dokumentasi Acara


 Kiai Kanjeng ketika memulai penampilannya -sebelum Cak Nun masuk panggung


Cak Nun ketika baru masuk panngung, dan menyampaikan pesan-pesannya


Cak Nun ketika menyampaikan pesan-pesannya kepada para hadirin


Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika menyanyikan tembang 'syi'ir tanpa wathon'


Nah, itu tadi kurang lebih oleh-oleh dari Pengajian Akbar Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Niatnya sih, buat berbagi pengalaman saja. Silahkan disimpulkan sendiri, dan semoga bermanfaat… J


Jogja, 30 Maret 2013

Rabu, 20 Maret 2013

Depok Vs Merapi



Embun pagi masih menebarkan kesejukannya, bebarengan dengan matahari yang mulai menyembul malu-malu dari ufuk bagian timur. Memendarkan cahaya dan energi terdahsyatnya bagi bumi dan seisinya, agar dinamika kehidupan tetap berlangsung apa adanya dan sebagaimana mestinya. Ku hirup dalam-dalam aroma kesejukan embun pagi itu, dengan sisa-sisa bulir air ‘sesepan’ yang masih sesekali macet di hidungku, sehingga memaksa mulutku mengeluarkan bunyi ‘hacing’, sembari gerak refleks menutup mata. Ya, tiap pagi ketika sebelum air wudlu benar-benar membuatku melek, ku biasakan untuk menyerap air melalui hidung. Alasannya simpel, karna teringat akan sebuah hadits dan wejangan seorang guru ketika ngaji masa kecil dulu, yang sampai saat ini masih menjadi bagian kecil yang ku pertahankan, bahwa setiap kali bangun tidur –sebelum wudlu, disunnahkan untuk nyesep (menghirup) air melalui hidung, agar aroma setan yang terhirup ketika ‘mati suri’ segera melarikan diri dari tubuh kita.

Sepagi itu, ternyata ada sebuah pesan masuk pada handphone Nokia 2600 classic-ku. Hal yang sangat jarang terjadi karna memang hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui nomor As-ku. Tak ku ketahui itu nomor siapa, jadi ku respon saja dengan menanyakan identitasnya. Beberapa saat, baru ku tau ternyata itu adalah salah satu familyku dari Bojonegoro, dari keluarga Pakde yang merupakan suami dari kakak Ibuku. Kak Doel, begitulah sapaan akrabnya. Dia mengabarkan kedatangannya di kota Gudeg ini, sembari menyampaikan titipan dari orang tuaku dari rumah untukku. Setelah bernegosiasi menyusun propaganda pertemuan untuk hari itu, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa aku yang akan menemuinya di Bantul, di rumah temannya yang sekaligus tetanggaku di Bojonegoro dan akrab ku sapa Mas Wit.

Segera ku tarik tubuhku ke kamar mandi, untuk kemudian mengguyurnya dengan air yang tak pernah ku rasakan dingin, meskipun mandi sepagi itu –pukul 6. Ya, menurut adat kebiasaanku, juga mungkin para mahasiswa pada umumnya, mandi sepagi itu merupakan fenomena yang langka. Karna lebih suka mandi ketika siang, kecuali jika memang ada keperluan seperti ini. Setelah selesai menyegarkan diri, ku raih sebuah kunci motor Honda Revo yang menggelantung pada rak bukuku, kemudian ku tarik motorku menuju teras sempit depan kosku untuk memanaskannya. Ah, sepagi itu sudah harus menghirup asap knalpot motor, mencemari pernafasan saja, sedikit keluhku dalam batin. Dan setelah menanyakan rute menuju rumah mas Wit di daerah Bantul, segera ku pacu saja kuda mesinku menyusuri jalan raya kota Jogja pagi itu.

Rumahnya mas Wit ternyata berada di dekat kampus UMY, dan untuk menuju ke sana harus menyusuri sepanjang jalan raya dan juga ringroad selatan selama kurang lebih 60menit, melewati sekitar 13 lampu merah dari tempatku. Jarak yang lumayan juga, tapi ku berhasil menemukan rumahnya yang terletak di daerah Perumahan Griya Mandiri.

Sesampainya di sana, ku jabatkan tangan ini pada Kak Doel dan istrinya –mbak Ika, juga pada mas Wit dan istrinya –mbak Desi. Dan tak lupa juga ku menyapa dua kesatria kecil kak Doel; Niko dan Adil, serta jagoan kecil mas Wit; Fahri. Obrolan macam-macam pun segera mengalir begitu saja dari mulut kami semua, sambil menyeruput teh hangat pada cangkir kecil yang disuguhkan oleh tuan rumah.

Setelah menikmati sarapan sambel lele buatan mbak Desi, segera ku berniat untuk cabut. Akan tetapi kemudian niatku kalah dengan ajakan kak Doel untuk keliling kota Jogja. Okelah, kapan lagi bisa ngumpul-ngumpul dengan keluarga gini, pikirku. Dan demi itu, harus ku relakan waktu yang seharusnya telah ku rencanakan untuk mengikuti bedah buku yang dihadiri oleh Cak Nun, sekaligus harus ku ambil jatah mbolosku yang masih utuh.

Dengan mengendarai Kijang Innova, berangkatlah kami berlima –aku, kak Doel, mbak Ika, Niko dan Adil. Segera ku rekomendasikan untuk menyusuri pantai Depok dulu, yang berdekatan dengan Parangtritis dan kebetulan tidak terlalu jauh untuk ditempuh.

Setelah sekitar 30 menitan, sampailah Kijang Innova yang kami kendarai di Pantai Depok. Bau asin segera menyerbu hidung kami, dan tak memberikan waktu luang barang sejenak saja agar hidung kami terbebas dari siksaan bau itu. Pantai terlihat lengang pagi itu. hanya terlihat beberapa orang saja yang berseliweran sana sini. Ku perhatikan ombak yang bergulung-gulung di pantai begitu ganas memperlihatkan taringnya, membuat kebanyakan orang tak berani untuk sekedar mendekat saja ke bibir pantai. Dan dengan terpaksa, hanya bisa melihat dan melihatnya dari jauh saja. Sambil ngudud, para nelayan-nelayan di pantai itu terlihat begitu menikmati pemandangan yang jelas sudah begitu akrab dengan mereka.

Ku pandangi dan ku hirup dalam-dalam saja aroma pantai pagi itu, sambil sesekali berfoto dengan mbak Ika, juga Niko-Adil, dan sendirian. Dan ku lihat beberapa saat setelah itu, kak Doel dengan istri dan kedua anaknya menyewa motor track untuk kemudian menyusuri sebagian kecil daerah pantai Depok, dengan motor tersebut.

Dan inilah hasil jepretan kami selama di pantai Depok J

Aku dan Mbak Ika di bibir pantai Depok, hayo cantikan mana… Xixixi

Berpose sendiri, sambil menyusuri pasir-pasir pantai Depok, J


Ngapain mbak?  Udah penuh tuh, segera pindah >.<

Setelah merasakan jenuh di pantai, kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah saudara mbak Ika, yang masih berada di daerah Bantul, di daerah Jl. Imogiri Timur. Setelah muter-muter menyusuri gang-gang kecil dan sempit, sampailah kami di tempat tujuan. Tak ada hal istimewa yang terjadi di sana, selain bertambahnya saudara se-Bojonegoro yang berada di Jogja ini. Dan setelah usai melaksanakan shalat Jum’at dan dzuhur, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kaliurang –rumah mas Ali, yang juga masih familiku dan teman dekat Abahku.

Setelah menembus jalan dari daerah ringroad selatan menuju ke daerah ringroad utara selama kurang lebih 60 menit, sampailah kami di rumah mas Ali yang berada di radius 12km dari gunung merapi, juga diapit oleh dua sungai besar yang sekarang menjadi sungai pasir sejak meletusnya merapi pada 2010 silam, yaitu sungai Opak dan sungai Gendol. Rumah yang cukup besar, dengan toko yang besar pula. Dan rumah ini terlihat begitu strategis karena bearada tepat di perempatan besar yang sering dilewati oleh truk-truk besar pengangkut pasir.

Setelah bercuap-cuap ria, kami pun akhirnya memutuskan untuk naik menuju merapi, yang bagiku sudah ketiga kali itu ku lakukan. Dengan membawa dua juru kunci kecil –anaknya mas Ali yang bernama Uun dan Syafiq, melajulah Kijang Innova kami menyusuri jalan bebatuan yang menanjak-menurun menuju gunung merapi. Debu-debu tebal yang dihasilkan oleh jalan-jalan yang terlindas kendaraan-kendaraan pun sempat membuat pemandangan jalan kami terhalang. Ku perhatikan, sepertinya kak Doel ini memang sudah sangat biasa menyusuri jalan-jalan terjal. Terbukti, jalan-jalan bebatuan itu terus saja dilindas oleh Innova yang kami kendarai ini dengan lancar. Kalau pada kedatanganku yang kedua kali sebelumnya, ku hanya berhenti pada radius 7km dari puncak merapi, kali itu tidak. Innova terus saja melaju sampai pada sebuah lapangan luas tempat parkir mobil-mobil dan motor-motor di radius 3km dari puncak merapi.

Hawa dingin secepat kilat menyusup ke dalam tubuh kami, dan kabut tebal pun memenuhi langit dan menutupi pemandangan puncak merapi. Ah, sayang sekali. Padahal kami dan orang-orang yang di sana telah menunggu pemandangan yang sangat indah, yaitu menyaksikan kokohnya puncak merapi.

Sembari menunggu hilangnya kabut tebal yang menutupi langit dan gunung, ku seruput goodday cappuccino hangat di sebuah warung, agar rasa dingin yang mulai menyerang sedikit terkurangi. Sambil sesekali melihat bunga edelways yang terangkai indah di warung tersebut. Ya, siapa yang tak kenal bunga edelways yang memang cantik itu? semua hampir tau bahwa itu adalah bunga seumur hidup dan tak pernah mati, kecuali jika terkena air. Penjual bunga yang tak lain merupakan suami dari pemilik warung itupun menceritakan proses terangkainya bunga edelways yang indah itu, mulai dari pengambilannya dari tanaman aslinya, pengeringannya, pemberian warnanya, sampai harganya pun semua dijelaskan secara detail oleh Bapak yang ramah dan bermata coklat sedikit kebiru-biruan itu. harganya standart memang, yaitu 30.000,- untuk rangkaian kecil.

Beberapa menit setelah itu, pemandangan yang kami tunggu-tunggu pun datang. Sedikit demi sedikit, dan perlahan demi perlahan kabut asap tebal yang menutupi langit dan puncak merapi pun segera pergi, untuk sekedar memberi kesempatan untuk melihat, menikmati dan berpose kepada orang-orang yang telah menantikannya.

Ini nih gunung merapi yang masih kokok, yang berhasil kami abadikan dari radius 3km J


Baru nyampe udah narsis, J

Dan kami pun tak melewatkan kesempatan ini. Kebetulan di depan mata kami Nampak sebuah onggokan batu besar. Lantas, aku mengajak semua orang untuk naik ke atas batu itu dan berpose di sana, dengan background gunung merapi. Indahnya..

Berpose dengan anak-anak kecil, hihihi
(dari kiri; Uun, Syafiq, Niko, Adil dan aku –paling tua, J)


Kalo yang ini, ada tambahan personil, yaitu mbak Ika, J


Bergaya sendiri di depan gunung merapi, heuheu J

Perjalanan kami belum berhenti sampai situ, karna setelah puas berfoto-foto dengan gunung merapi, kak Doel memacu Innovanya menuju banker yang berjarak sekitar 2km dari puncak merapi, dan merupakan tempat persembunyian darurat ketika terjadi letusan.

Baru setelah itu, kami pun pulang ke rumah mas Ali, bebarengan dengan adzan maghrib serta senja sore dengan langit berwarna orange kekuning-kuningan yang sedikit mengobati rasa lelah kami…

Begitulah, indahnya menyambung silaturrahmi itu, baik dengan teman, sahabat, terlebih keluarga. Maka di balik itu semua, tentu akan memberikan suntikan energy positif pada jiwa.

That’s all, entah ini cerita, curhat, atau apa. Hanya sekedar corat-coret saja. Terimakasih kalau sudi membaca ini… Nantikan cerita petualanganku selanjutnya J


Jogja, 16 Maret 2013

Nieza Ayoe