Rabu, 03 April 2013

Cak Nun: Agama Masyarakat Itu Sebenarnya Harus Telo, Bukan Gethuk atau Kripik



Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi bekas kerajaan Mataram (baca: Yogyakarta) ini tak sedikitpun menghalangi semangat para Cak Nunian (pengagum Cak Nun dan Kiai Kanjeng), untuk sekedar memacu kuda mesinnya menuju Masjid Jami’ At-Taqwa Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, demi mendapatkan kehangatan bathiniyyah lantaran petuah-petuah Cak Nun dan juga tembang-tembang yang disenandungkan oleh Kiai Kanjeng yang memang memiliki sengatan listrik yang bisa membuat jiwa orang kesetrum (kena sengatan listrik).
Acara ini dihelat oleh Pengurus Ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa, dengan mengangkat tema “Ashabul Kahfi Ada di Masjid Jami’ At-Taqwa: Istiqamah di Sahara Kehidupan Modern”. Jum’at, 29 Maret 2013, sekitar pukul 20.00 WIB, acara pun dibuka oleh MC yang membawakan acara secara semi formal. Setelah sambutan oleh ketua ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa; Prof. Dr. Edi, juga oleh Bupati Sleman, acara dimeriahkan oleh penampilan Kiai Kanjeng dengan membawakan tembang perdana “Hasbunallah wa ni’mal wakil”. Para penonton yang terdiri dari segala macam usia -mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, juga dari berbagai kalangan –akademisi, mahasiswa, petani, pejabat, dsb- yang memadati halaman luas masjid Jami’ At-Taqwa ini pun terlihat begitu menikmati dan menghayati alunan musik yang dibawakan Kia Kanjeng.
Setelah beberapa saat, tibalah sang Maestro yang telah ditunggu-tunggu, “Cak Nun”. Dengan mengenakan pakaian serba putih dari ujung atas sampai ujung bawah, Cak Nun mulai menyampaikan pesan-pesannya. Ia memulai dengan menyampaikan sebuah ilusrasi yang cukup menarik, tentang agama Islam dan golongan-golongan yang ada di dalamnya.
Cak Nun mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang terkadang begitu fanatik terhadap golongan/aliran yang dianutnya, seperti NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb. Sehingga dari kefanatikan itu memunculkan tindak kekerasan yang kerap terjadi sesama muslim. Kemudian Cak Nun pun mengilustrasikan agama Islam laksana Telo (sejenis umbi-umbian) yang bisa menghasilkan berbagai aneka menu, seperti Gethuk, Kripik, dsb. Nah, Telo diibaratkan sebagai agama Islam murni, dan Gethuk, Kripik diibaratkan aliran-aliran yang muncul dalam Islam. Nah, kebanyakan orang memang menganggap bahwa NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb itu sebagai agama mereka, padahal sebenarnya semua sama-sama Islam. Itulah pentingnya menjunjung tinggi pluralisme.
Maka Cak Nun pun melontarkan pertanyaan kepada para pengunjung yang berdekatan dengan panggung, dengan berbahasa Jawa, “la seng agama iku lak seng Telone to bu’ nggeh, ora kok Gethuk lan Kripik iku? La wong saiki iki, seng sering nganggep agamane iku Gethuk lan Kripik iku, padahal asline kan Telo” (La yang agama itu kan yang Telo-nya kan bu’ ya, bukan kok Gethuk dan Kripik? La orang sekarang itu sering menganggap agamanya itu Gethuk dan Kripik itu, padahal aslinya kan Telo). Sontak para hadirin pun tertawa mendengar ilustrasi Cak Nun yang terkesan aneh, lucu namun sarat akan makna tersebut.
Tembang-tembang pun mengalir dari tangan-tangan para anggota Kiai Kanjeng, seperti syi’ir tanpa wathon, gelandangan, dsb, mengiringi jalannya pengajian yang selesai sekitar pukul 00:00 malam tersebut.
  
20 pesan selanjutnya

Selain menyampaikan tentang Telo, dkk tersebut, dengan kemasan bahasa Indonesia dan Jawa, dan dengan ciri khasnya yang terkesan slengek’an dan seperti ocehan ngawur namun sarat makna itu, Cak Nun juga menyampaikan beberapa pesan yang penting kepada para hadirin. Paling tidak ada 20 pesan yang berhasil ku rangkum. 

Pertama, Kita harus bisa memilih dan memilah, mana perkara yang harus kita masukkan dalam otak, hati, dan tangan itu. Jangan sampai salah tempat.

Kedua, Orang yang diinjak-injak dan kere (miskin) itu terkadang lebih bermanfaat.

Ketiga, Wong iku oleh duwur –pangkate, tapi gak oleh nduwuri wong (orang itu boleh saja berpangkat tinggi, tapi nggak boleh menganggap remeh orang). Sebuah kritik terhadap para pejabat-pejabat yang terkadang sering meremehkan dan menyepelekan orang yang ada di bawahnya.

Keempat, Manusia itu bukan makhluk permanen, artinya dia bisa baik dan kadang juga bisa buruk. Jadi, jangan khawatir jika kita dicap buruk oleh orang.

Kelima, Tawakkal bisa dimaknai secara sederhana seperti ini; “mengurusi hal yang bisa diurus, dan kalau ada hal yang nggak bisa diurus, pasrahkanlah kepada Allah”. Artinya, kita cukup mengurus perkara yang sudah konkrit dan ada di depan mata saja. Perihal perkara yang masih belum jelas dan masih abstrak, cukup pasrahkan saja urusannya pada Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambaNya.

Keenam, Setiap orang itu punya fadhilah (keutamaan). Jadi jangan minder dengan diri sendiri.

Ketujuh, Orang itu selalu melihat yang tinggi, dan menganggap bahwa yang tinggi dan berada di atas, itulah yang terbaik dan mulia. Padahal bukan seperti itu, karena semua sudah ada porsi dan jatahnya masing-masing. Contohnya saja, burung bisa terbang tinggi ke atas itu ya karna memang sudah kodratnya dia bisa begitu. Karna kan dia punya sayap. Makanya keliatan pantas dan baik. La sekarang, coba bayangin bagaimana kalau ayam, harimau, yang emang kodratnya berjalan di bawah –daratan, tapi disuruh terbang? Lantaran asumsi yang beredar bahwa yang terbang tinggi dan di atas itu baik. Apa nggak tambah menyeramkan dan menghawatirkan tuh? Itu baru ayam sama harimau. Coba kalau badak sama gajah yang terbang? :D

Kedelapan, Wajah itu perwakilan dari seluruh diri kita. “sing ngentut silite, tapi sing diwudhu-ni wajahe” (yang kentut dubur-nya, tapi yang diwudhu-in wajahnya). Kenapa? Ya karna orang itu menilai dari wajah kita kan, dan nggak mungkin dari dubur atau bagian anggota tubuh lain –selain wajah? :D

Kesembilan, Cahaya itu hanya terlihat di dalam kegelapan, bukan di tempat yang terang benderang. Artinya, ketika kita tidak masuk ke catatan ‘buku hitam’ yang penuh kegelapan dulu, mustahil kita akan tau dan mendapatkan penerangan (cahaya).

Kesepuluh, Pencipta lagu “syi’ir tanpa wathon” yang selama ini diklaim diciptakan oleh Gus Dur pun diluruskan oleh Cak Nun. Dikatakan bahwa sebenarnya yang menciptakan lagu itu adalah Kiai Sahlan dari Krian, Sidoarjo pada tahun 1950-an. Dan syi’ir itu muncul lantaran untuk menyaingi lagu ludruk yang sedang tenar waktu itu. hal ini disampaikan, tepat sebelum Kiai Kanjeng beraksi dengan membawakan tembang syi’ir tanpa wathon.

Kesebelas, “Jawa ayo digawa, Arab digarap, Barat diruwat” (Budaya Jawa mari kita bawa, Arab dikerjakan, Barat dipelihara). Sebuah pesan yang singkat, padat, jelas dan sarat makna tentang pentingnya menjaga budaya daerah dan Nusantara, tanpa menolak mentah-mentah juga terhadap budaya asing yang masuk. المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح”.

Keduabelas, perihal tema acara itu –Ashabul Kahfi, Cak Nun menyampaikan agar jangan sampai ada gua ashabul kahfi lagi di zaman sekarang. Pemuda ashabul kahfi yang ditidurkan oleh Allah, itu merupakan gambaran para pemuda yang tetap kekeh menjaga imannya, lantaran khawatir akan terseret situasi modernitas yang ada di dunia. Makanya mereka memilih untuk menyendiri dalam gua yang kemudian ditidurkan oleh Allah selama 300 tahun, ditambah 6 tahun.

Ketigabelas, Sunan Kalijaga itu peranannya paling banyak adalah dalam hal peralihan perpolitikan (dari Majapahit-Demak-Pajang-Mataram). Hal ini disampaikan Cak Nun, ketika beliau menceritakan bahwa orang-orang terkadang ada yang nyeletuk, dengan mengatakan bahwa ia adalah jelma’an dari Sunan Kalijaga. J

Keempatbelas, Ibadah itu yang mahdhah (wajib, murni) hanya 3,5%, sisanya 96,5% itu adalah mu’amalah.

Kelimabelas, Makin dekat seseorang dengan seseorang yang lain, maka semakin tidak ada etika di antara keduanya.

Keenambelas, Pelurusan antara Al-Qur’an dan Mushaf. Al-Qur’an yang asli dan terjaga itu berada di lauh mahfudz. Sedangkan yang ada di hadapan kita sekarang itu adalah mushaf.

Ketujuhbelas, Bid’ah itu hanya ada dalam ibadah mahdhah saja, bukan pada ibadah mu’amalah. Hal ini disampaikan, ketika ada salah satu ibu-ibu yang menanyakan tentang bid’ah kepada Cak Nun.

Kedelapanbelas, Kebohongan itu terkadang penting, pada saat-saat tertentu saja.

Kesembilanbelas, Pilihan hidup itu ada tiga: ijtihad, ittiba’, atau taqlid. Kita pilih sesuai kapasitas diri kita.

Keduapuluh, Jangan sampai ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi kedekatanmu dengan Allah.


Dokumentasi Acara


 Kiai Kanjeng ketika memulai penampilannya -sebelum Cak Nun masuk panggung


Cak Nun ketika baru masuk panngung, dan menyampaikan pesan-pesannya


Cak Nun ketika menyampaikan pesan-pesannya kepada para hadirin


Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika menyanyikan tembang 'syi'ir tanpa wathon'


Nah, itu tadi kurang lebih oleh-oleh dari Pengajian Akbar Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Niatnya sih, buat berbagi pengalaman saja. Silahkan disimpulkan sendiri, dan semoga bermanfaat… J


Jogja, 30 Maret 2013

Rabu, 20 Maret 2013

Depok Vs Merapi



Embun pagi masih menebarkan kesejukannya, bebarengan dengan matahari yang mulai menyembul malu-malu dari ufuk bagian timur. Memendarkan cahaya dan energi terdahsyatnya bagi bumi dan seisinya, agar dinamika kehidupan tetap berlangsung apa adanya dan sebagaimana mestinya. Ku hirup dalam-dalam aroma kesejukan embun pagi itu, dengan sisa-sisa bulir air ‘sesepan’ yang masih sesekali macet di hidungku, sehingga memaksa mulutku mengeluarkan bunyi ‘hacing’, sembari gerak refleks menutup mata. Ya, tiap pagi ketika sebelum air wudlu benar-benar membuatku melek, ku biasakan untuk menyerap air melalui hidung. Alasannya simpel, karna teringat akan sebuah hadits dan wejangan seorang guru ketika ngaji masa kecil dulu, yang sampai saat ini masih menjadi bagian kecil yang ku pertahankan, bahwa setiap kali bangun tidur –sebelum wudlu, disunnahkan untuk nyesep (menghirup) air melalui hidung, agar aroma setan yang terhirup ketika ‘mati suri’ segera melarikan diri dari tubuh kita.

Sepagi itu, ternyata ada sebuah pesan masuk pada handphone Nokia 2600 classic-ku. Hal yang sangat jarang terjadi karna memang hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui nomor As-ku. Tak ku ketahui itu nomor siapa, jadi ku respon saja dengan menanyakan identitasnya. Beberapa saat, baru ku tau ternyata itu adalah salah satu familyku dari Bojonegoro, dari keluarga Pakde yang merupakan suami dari kakak Ibuku. Kak Doel, begitulah sapaan akrabnya. Dia mengabarkan kedatangannya di kota Gudeg ini, sembari menyampaikan titipan dari orang tuaku dari rumah untukku. Setelah bernegosiasi menyusun propaganda pertemuan untuk hari itu, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa aku yang akan menemuinya di Bantul, di rumah temannya yang sekaligus tetanggaku di Bojonegoro dan akrab ku sapa Mas Wit.

Segera ku tarik tubuhku ke kamar mandi, untuk kemudian mengguyurnya dengan air yang tak pernah ku rasakan dingin, meskipun mandi sepagi itu –pukul 6. Ya, menurut adat kebiasaanku, juga mungkin para mahasiswa pada umumnya, mandi sepagi itu merupakan fenomena yang langka. Karna lebih suka mandi ketika siang, kecuali jika memang ada keperluan seperti ini. Setelah selesai menyegarkan diri, ku raih sebuah kunci motor Honda Revo yang menggelantung pada rak bukuku, kemudian ku tarik motorku menuju teras sempit depan kosku untuk memanaskannya. Ah, sepagi itu sudah harus menghirup asap knalpot motor, mencemari pernafasan saja, sedikit keluhku dalam batin. Dan setelah menanyakan rute menuju rumah mas Wit di daerah Bantul, segera ku pacu saja kuda mesinku menyusuri jalan raya kota Jogja pagi itu.

Rumahnya mas Wit ternyata berada di dekat kampus UMY, dan untuk menuju ke sana harus menyusuri sepanjang jalan raya dan juga ringroad selatan selama kurang lebih 60menit, melewati sekitar 13 lampu merah dari tempatku. Jarak yang lumayan juga, tapi ku berhasil menemukan rumahnya yang terletak di daerah Perumahan Griya Mandiri.

Sesampainya di sana, ku jabatkan tangan ini pada Kak Doel dan istrinya –mbak Ika, juga pada mas Wit dan istrinya –mbak Desi. Dan tak lupa juga ku menyapa dua kesatria kecil kak Doel; Niko dan Adil, serta jagoan kecil mas Wit; Fahri. Obrolan macam-macam pun segera mengalir begitu saja dari mulut kami semua, sambil menyeruput teh hangat pada cangkir kecil yang disuguhkan oleh tuan rumah.

Setelah menikmati sarapan sambel lele buatan mbak Desi, segera ku berniat untuk cabut. Akan tetapi kemudian niatku kalah dengan ajakan kak Doel untuk keliling kota Jogja. Okelah, kapan lagi bisa ngumpul-ngumpul dengan keluarga gini, pikirku. Dan demi itu, harus ku relakan waktu yang seharusnya telah ku rencanakan untuk mengikuti bedah buku yang dihadiri oleh Cak Nun, sekaligus harus ku ambil jatah mbolosku yang masih utuh.

Dengan mengendarai Kijang Innova, berangkatlah kami berlima –aku, kak Doel, mbak Ika, Niko dan Adil. Segera ku rekomendasikan untuk menyusuri pantai Depok dulu, yang berdekatan dengan Parangtritis dan kebetulan tidak terlalu jauh untuk ditempuh.

Setelah sekitar 30 menitan, sampailah Kijang Innova yang kami kendarai di Pantai Depok. Bau asin segera menyerbu hidung kami, dan tak memberikan waktu luang barang sejenak saja agar hidung kami terbebas dari siksaan bau itu. Pantai terlihat lengang pagi itu. hanya terlihat beberapa orang saja yang berseliweran sana sini. Ku perhatikan ombak yang bergulung-gulung di pantai begitu ganas memperlihatkan taringnya, membuat kebanyakan orang tak berani untuk sekedar mendekat saja ke bibir pantai. Dan dengan terpaksa, hanya bisa melihat dan melihatnya dari jauh saja. Sambil ngudud, para nelayan-nelayan di pantai itu terlihat begitu menikmati pemandangan yang jelas sudah begitu akrab dengan mereka.

Ku pandangi dan ku hirup dalam-dalam saja aroma pantai pagi itu, sambil sesekali berfoto dengan mbak Ika, juga Niko-Adil, dan sendirian. Dan ku lihat beberapa saat setelah itu, kak Doel dengan istri dan kedua anaknya menyewa motor track untuk kemudian menyusuri sebagian kecil daerah pantai Depok, dengan motor tersebut.

Dan inilah hasil jepretan kami selama di pantai Depok J

Aku dan Mbak Ika di bibir pantai Depok, hayo cantikan mana… Xixixi

Berpose sendiri, sambil menyusuri pasir-pasir pantai Depok, J


Ngapain mbak?  Udah penuh tuh, segera pindah >.<

Setelah merasakan jenuh di pantai, kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah saudara mbak Ika, yang masih berada di daerah Bantul, di daerah Jl. Imogiri Timur. Setelah muter-muter menyusuri gang-gang kecil dan sempit, sampailah kami di tempat tujuan. Tak ada hal istimewa yang terjadi di sana, selain bertambahnya saudara se-Bojonegoro yang berada di Jogja ini. Dan setelah usai melaksanakan shalat Jum’at dan dzuhur, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Kaliurang –rumah mas Ali, yang juga masih familiku dan teman dekat Abahku.

Setelah menembus jalan dari daerah ringroad selatan menuju ke daerah ringroad utara selama kurang lebih 60 menit, sampailah kami di rumah mas Ali yang berada di radius 12km dari gunung merapi, juga diapit oleh dua sungai besar yang sekarang menjadi sungai pasir sejak meletusnya merapi pada 2010 silam, yaitu sungai Opak dan sungai Gendol. Rumah yang cukup besar, dengan toko yang besar pula. Dan rumah ini terlihat begitu strategis karena bearada tepat di perempatan besar yang sering dilewati oleh truk-truk besar pengangkut pasir.

Setelah bercuap-cuap ria, kami pun akhirnya memutuskan untuk naik menuju merapi, yang bagiku sudah ketiga kali itu ku lakukan. Dengan membawa dua juru kunci kecil –anaknya mas Ali yang bernama Uun dan Syafiq, melajulah Kijang Innova kami menyusuri jalan bebatuan yang menanjak-menurun menuju gunung merapi. Debu-debu tebal yang dihasilkan oleh jalan-jalan yang terlindas kendaraan-kendaraan pun sempat membuat pemandangan jalan kami terhalang. Ku perhatikan, sepertinya kak Doel ini memang sudah sangat biasa menyusuri jalan-jalan terjal. Terbukti, jalan-jalan bebatuan itu terus saja dilindas oleh Innova yang kami kendarai ini dengan lancar. Kalau pada kedatanganku yang kedua kali sebelumnya, ku hanya berhenti pada radius 7km dari puncak merapi, kali itu tidak. Innova terus saja melaju sampai pada sebuah lapangan luas tempat parkir mobil-mobil dan motor-motor di radius 3km dari puncak merapi.

Hawa dingin secepat kilat menyusup ke dalam tubuh kami, dan kabut tebal pun memenuhi langit dan menutupi pemandangan puncak merapi. Ah, sayang sekali. Padahal kami dan orang-orang yang di sana telah menunggu pemandangan yang sangat indah, yaitu menyaksikan kokohnya puncak merapi.

Sembari menunggu hilangnya kabut tebal yang menutupi langit dan gunung, ku seruput goodday cappuccino hangat di sebuah warung, agar rasa dingin yang mulai menyerang sedikit terkurangi. Sambil sesekali melihat bunga edelways yang terangkai indah di warung tersebut. Ya, siapa yang tak kenal bunga edelways yang memang cantik itu? semua hampir tau bahwa itu adalah bunga seumur hidup dan tak pernah mati, kecuali jika terkena air. Penjual bunga yang tak lain merupakan suami dari pemilik warung itupun menceritakan proses terangkainya bunga edelways yang indah itu, mulai dari pengambilannya dari tanaman aslinya, pengeringannya, pemberian warnanya, sampai harganya pun semua dijelaskan secara detail oleh Bapak yang ramah dan bermata coklat sedikit kebiru-biruan itu. harganya standart memang, yaitu 30.000,- untuk rangkaian kecil.

Beberapa menit setelah itu, pemandangan yang kami tunggu-tunggu pun datang. Sedikit demi sedikit, dan perlahan demi perlahan kabut asap tebal yang menutupi langit dan puncak merapi pun segera pergi, untuk sekedar memberi kesempatan untuk melihat, menikmati dan berpose kepada orang-orang yang telah menantikannya.

Ini nih gunung merapi yang masih kokok, yang berhasil kami abadikan dari radius 3km J


Baru nyampe udah narsis, J

Dan kami pun tak melewatkan kesempatan ini. Kebetulan di depan mata kami Nampak sebuah onggokan batu besar. Lantas, aku mengajak semua orang untuk naik ke atas batu itu dan berpose di sana, dengan background gunung merapi. Indahnya..

Berpose dengan anak-anak kecil, hihihi
(dari kiri; Uun, Syafiq, Niko, Adil dan aku –paling tua, J)


Kalo yang ini, ada tambahan personil, yaitu mbak Ika, J


Bergaya sendiri di depan gunung merapi, heuheu J

Perjalanan kami belum berhenti sampai situ, karna setelah puas berfoto-foto dengan gunung merapi, kak Doel memacu Innovanya menuju banker yang berjarak sekitar 2km dari puncak merapi, dan merupakan tempat persembunyian darurat ketika terjadi letusan.

Baru setelah itu, kami pun pulang ke rumah mas Ali, bebarengan dengan adzan maghrib serta senja sore dengan langit berwarna orange kekuning-kuningan yang sedikit mengobati rasa lelah kami…

Begitulah, indahnya menyambung silaturrahmi itu, baik dengan teman, sahabat, terlebih keluarga. Maka di balik itu semua, tentu akan memberikan suntikan energy positif pada jiwa.

That’s all, entah ini cerita, curhat, atau apa. Hanya sekedar corat-coret saja. Terimakasih kalau sudi membaca ini… Nantikan cerita petualanganku selanjutnya J


Jogja, 16 Maret 2013

Nieza Ayoe

Selasa, 19 Maret 2013

Malam 'Sajojo' di Jogja


Tetes-tetes tangisan langit masih membasahi bumi Jogja, terhitung sudah sejak dari jam 4 sore tadi, sampai kini - jam 8, ku perhatikan genangan air masih memenuhi jalan-jalan yang berlubang, sehingga membuatnya menjadi 'becek' dengan rupa kecoklat-coklatan seperti kopi susu. Gerimis pun ternyata masih begitu krasan singgah di kota istimewa ini.

Sudah sekitar seminggu ini kota Jogja punya 'gawe', yakni Pesta Buku Jogja 2013 dengan tema "Jogja membaca kembali". Terhitung sejak tanggal 13 Maret 2013 kemarin, gedung Mandala Bhakti Wanitatama yang berada di Jl. Solo dan bertengger persis di sebelah barat kampus Sunan Kalijaga ini, begitu ramai dipadati pengunjung yang begitu haus akan nutrisi asupan gizi yang terkandung dalam buku. Siapa kira, ternyata buku memang memiliki asupan gizi yang sangat tinggi dari apapun. Tak sekedar vitamin A, B, atau C saja. Bahkan vitamin A-Z tekandung di dalamnya, dan terangkai begitu indah dan bermakna, tak sekedar pajangan tulisan saja. 

Acara ini dihelat oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) kota Yogyakarta yang berkerjasama dengan berbagai sponsor yang menyokongnya, sampai tanggal 19 Maret 2013 -malam ini. Tak tanggung-tanggung, deretan mobil yang berjajar di bibir Jl. Solo pun memenuhi hari-hari itu; pesta buku. Apalagi jumlah motor, sudah tak terhitung dah berapa puluh motor yang terparkir di area yang telah disediakan.

Sejenak ku seret kakiku untuk menaiki 'lebah besi'ku, menerjang gerimis malam kota Jogja menuju acara itu. "dan...yang memenangkan doorprize berupa setrika adalah...bla..bla..bla..", terdengar suara MC acara yang masih membacakan undian-undian berhadiah ketika baru saja ku menemukan tempat nyaman buat singgah 'lebah besi'ku. Walaupun gerimis masih krasan di Jogja malam ini, tapi hal itu tak mengurangi keramaian pengunjung bookfair. Maklum, kan malam terakhir. Segera ku ambil posisi duduk di deretan kursi yang tersedia. Beberapa menit kemudian, acara pengundian doorprize pun selesai dengan dibacakannya pemenang sebuah TV 14". 

Para pengunjung yang kecewa lantaran belum beruntung mendapatkan doorprize pun segera melepaskan pantatnya masing-masing dari terkaman kursi yang dianggapnya 'panas' itu. Terlihat wajah kusut dan sebel mereka mencoba menghibur diri sendiri dengan mengikhlaskannya.

"dan...mari kita sambut penampilan yang sudah kita tunggu-tunggu, yaitu penampilan dari Sanggar Nusantara yang sekaligus menutup rangkaian acara bookfair pada kali ini...", suara MC perempuan yang berpenampilan sederhana dengan balutan busana dan jilbab cukup modis ini membuyarkan konsentrasiku yang masih terpaku mengamati orang-orang sekitar. Terlihat setelah itu 4 orang laki-laki dengan membawa alat musik sesuai kemampuannya masing-masing, ke atas panggung. Juga terekam 4 orang perempuan dan 4 laki-laki yang berjajar di samping panggung dengan berpakaian khas adat Papua, sudah tidak sabar menantikan gilirannya untuk memeriahkan panggung itu. 

Tiba-tiba tawa para pengunjung malam itu pecah, lantaran seorang laki-laki berperawakan tinggi dan 'pas'; tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus, tapi cukup tampan, yang naik ke atas panggung dengan mengenakan boxer berwarna biru laut dengan lapisan selembar handuk yang terikat di pinggangnya. Yang lebih menggelikan lagi, laki-laki itu rambutnya berbusa, persis seperti orang yang habis mandi 'besar' yang di tengah-tengah jalan kehabisan air, sehingga busa shampo pun masih menggelayut di batang-batang rambutnya. Kontan saja para pengunjung dibuat heboh dan kaget karena mengira dia orang gila yang menyusup begitu saja di panggung, pun termasuk aku mengira seperti itu.

Akan tetapi kemudian ketika melihat dia menenteng gitar dan kemudian duduk silo di antara 4 laki-laki pemain alat musik itu pun, kami segera sadar bahwa dia masih lelaki normal dan bukan orang gila. Lantas, kami pun dibuatnya terkagum-kagum melihat kelihaiannya memainkan gitar, seruling, juga gendang secara bergantian mengiringi para penari-penari, yang satu persatu mulain meliuk-liukkan badannya di depan kami -padahal penampilannya nggak karuan seperti itu ternyata kemampuan dalam musiknya tak bisa diremehkan. Tepuk tangan pun segara membahana di sela-sela tarian indah dengan iringan musik yang tak kalah indah, yang keduanya berjenis musik timur (baca: Papua) itu. 

Di sela-sela jeda penampilan, ku perhatikan si orang aneh berhanduk itu ternyata sedang mencari-cari kesempatan mengucek matanya yang perih terkena busa shampo, yang memang masih mengalir di kepala dan wajahnya itu. Berkali-kali dia melakukan itu. Sontak ku tak bisa menahan tawaku sendiri melihat pemandangan itu. Gayanya berlaku aneh, unik dan menarik, tapi ternyata malah kena getahnya sendiri. Hahaha..

Tapi ya memang seperti itulah seni. Dia tak pernah peduli akan penampilannya yang begitu acak-acakan, dan sering dianggap aneh bahkan gila oleh orang-orang awam. Karena itu ia anggap sebagai representasi akan sebuah kebebasan yang begitu dirindukan banyak orang. Bagi seniman dan penikmat seni, tentu hal itu tak akan menjadi masalah. Malah bisa jadi nilai plus yang akan membuat orang semakin mengukuhkan dan mengakui eksistensinya sebagai seorang seniman. Ku lirik beberapa orang di dekatku -yang berasal dari Timur juga tak bisa menahan tawanya melihat adegan mengucek mata itu.

Setelah 4 orang penari perempuan menyuguhkan penampilannya, sekarang giliran 4 laki-laki kurus beraksi. 2 orang membawa busur panah, dua lainnya dengan tangan kosong. Dengan hanya memakai kain berwarna coklat susu yang bertengger pada bagian pusar sampai lutut -sesuai dengan adat mereka, mereka berempat berkolaborasi membawakan tarian daerahnya dengan begitu asik dan membuat penonton begitu menikmatinya. Beberapa saat kemudian, terlihat 4 orang laki-laki itu menepi di bagian samping depan panggung, untuk kemudian bergabung dengan 4 penari perempuan yang telah tampil sebelumnya. Mereka berdelapan itu pun kembali memenuhi panggung dengan tarian dan iringan musik "sajojo" dari Papua. 

Begitu asiknya pembawaan tarian dan musik itu, sehingga membuat seorang laki-laki -dengan membawa sebungkus kresek putih yang berisikan buku, terlihat masuk begitu saja pada kerumunan para penari itu, sambil bergoyang tak keruan tentu saja. Para penonton pun kembali dibuat ngakak dengan pemandangan itu. Akan tetapi, siapa sangka ternyata dari ulahnya yang nekat dan tak tau malu itu pada akhirnya membuat para penonton satu-persatu mengikuti jejaknya; ikut menari di panggung.

Para penari pun langsung merangsek masuk pada kerumunan penonton yang masih duduk berjejer rapi di kursi, dan mereka -para penari- itu menarik satu persatu orang-orang di dekatnya, entah dikenalnya atau tidak, untuk kemudian diajaknya menari rame-rame di panggung. Diriku pun tak luput hampir menjadi korban amukan para penari itu, untung bisa menolak. Dan beberapa saat setelah itu ku lihat panggung sudah penuh berisikan para penonton yang mencoba meliuk-liukkan tangannya, kakinya, serta tubuhnya sekenanya mengikuti para penari yang berada di barisan terdepan. Beberapa saat setelah itu, tarian dan musik pun selesai dengan sambutan tepuk tangan yang sangat meriah...

Indonesia memang kaya akan budaya yang begitu berharga, maka mari kita biasakan mulai dari diri kita sendiri untuk mempertahankan aset berharga Negara tersebut. Dan Jogja, ah lagi-lagi kau menyihirku dengan pesonamu dan sajian-sajianmu yang begitu memikatku, membuat hatiku selalu berdesis syukur karena telah diberi kesempatan untuk menjadi bagian darimu...

Ketradisionalan, keramahan, serta kuatnya cengkramanmu pada budaya-budaya Nusantara, tentu akan menjadikan kau tetap juara dalam hal "istimewa"... dan membuatku berucap... "hanya orang bodoh yang nggak krasan tinggal di Jogja" :)



Jogja, 20 Maret 2013



Nieza Ayoe

Rabu, 26 Desember 2012

Gorengan Bakar dan Polisi Jongkok






Jika anda bertandang ke kota Jogjakarta, apakah yang ada di benak anda tentang kota yang terkenal dengan ketradisionalan dan keistimewaannya tersebut? Tentu selain Gudeg dan Batik. Ya, jawabnya adalah ‘Angkringan’. Sebuah warung kecil dengan penerang ‘lampu ublik’ itu akan sangat mudah kita temukan di sepanjang jalan di Jogja, entah di desa maupun di kota. Sambil ‘merem’ pun bisa dijamin akan sangat mudah menemukan angkringan di Jogja (karena saking banyaknya). Apalagi di kota; daerah sekitar kampus-kampus akan kita temukan bermacam-macam Angkringan dengan ciri khas dan rasa-nya masing-masing. Walaupun aneka menu yang disajikan antara angkringan satu dengan yang lain tidak  jauh beda, begitupun dengan harga. Bisa dijamin harga dan menu semua sama, dan kalaupun beda tentu tidak akan terlampau jauh.



Paling tidak ada beberapa menu pokok yang disajikan, seperti; gorengan (tempe, bakwan (Bojonegoro; ote-ote, Malang; weci), tahu, pisang, dsb), sate telur puyuh, kepala-ceker ayam, sate usus, sate keong, jajanan tradisional (gethuk, lapis, nogosari, dsb), dan sebagainya. Serta tentu saja ‘nasi kucing’ yang menjadi menu paling pokok dan andalan dari angkringan itu. Tentu semua orang sudah tau akan filosofi dari nama itu. Ya, karena memang porsi nasi yang disajikan untuk manusia, sama dengan porsi makan untuk kucing. Kira-kira hanya sekitar 3-5 sendok saja nasinya, plus sedulit sambel teri dengan dibungkus daun pisang, dan biasanya dilapisi dengan koran, kertas minyak, atau kertas bekas. Mirip sekali dengan makanan kucing bukan? Akan tetapi belakangan para penjual angkringan sudah banyak yang kreatif dengan menawarkan lauk yang bervariasi, sebagai pendamping nasi kucing itu. Seperti; tempe kering, mie, telur dadar, dan ada juga ‘nasi goreng kucing’. Kucing makan nasi goreng. ^_^


Dari segi harga, jangan Tanya. Tentu sangat amat murah dan merakyat sekali. Jika anda sedang bokek alias kere bin muflis, jangan khawatir. Bisa dijamin dengan uang 3.000-5.000 saja pasti sudah kenyang. Nasi kucing yang hanya 1.000 rupiah per bungkus, dan gorengan hanya 500 per biji. Akan tetapi, bagi yang hoby makan, jangan sampai lepas kontrol ya ketika makan di angkringan. Karena ketika anda sudah tidak bisa menahan ‘nafsu’ makan yang menggebu-gebu, dan mata anda yang sudah dimanjakan dengan beraneka makanan yang enak dan murah, anda harus siap merelakan uang 20.000 bahkan 50.000 masuk ke kantong pemilik angkringan itu, hanya untuk sekali makan. ^_^ Bagaimana tidak, lawong nongkrongnya aja 1-3 jam, sambil tak terasa di sela-sela obrolan dengan teman-teman, tangan seakan bergerak sendiri mengambil makanan sesuai selera. Belum lagi fikiran kita yang sudah terpatok bahwa semua yang ada di angkringan adalah murah, padahal murah kalo ditumpuk-tumpuk kan juga jadimahal. ^_^ Nggak percaya? Silahkan dibuktikan sendiri.

Nah, dari sekian ratus angkringan yang ada di Jogja, salah satu yang perlu direkomendasikan untuk diampiri ketika di Jogja adalah sebuah angkringan di daerah Sapen, tepatnya belakang Hotel Saphir. Kalo anda berjalan dari gerbang kecil kampus barat UIN (dekat dengan fakultas Syari’ah), anda tinggal berjalan lurus saja ke arah barat menyusuri gang yang tidak begitu kecil itu. Sampai dengan toko sembako di kiri jalan, anda ambil belok kanan, sampai deh. Agak tersembunyi memang tempatnya.

Berawal dari ajakan seorang teman yang kebetulan sudah lebih duluan tinggal lama di Jogja, suatu hari makan lah kami di sana. Tidak jauh beda dengan angkringan-angkringan yang lain sebenarnya, kecuali pada menu bakarannya. Di sana kita bisa makan gorengan bakar yang sangat lezat. Ditambah dengan keramahan penjualnya. Paling tidak itu yang dirasakan oleh lidah saya dan beberapa teman yang sudah pernah ke sana. Dan taukah anda apa rahasia dibalik kelezatannya itu? Ternyata itu berasal dari rasa kecap dengan campuran mentega yang dituang di dalam sebuah gelas, kemudian dioleskan secara merata pada gorengan itu dengan menggunakan kuas, dan kemudian barulah gorengan tersebut dibakar di atas tungku dengan areng yang masih merah menyala. Dan satu hal lagi yang perlu kau tau teman, kecap yang digunakan bukanlah sembarang kecap, melainkan kecap ‘bango’. Eits, jangan dianggap promosi ya, karena memang itulah fakta yang ada. Bisa dijamin, lidah anda akan bergoyang terus merasakan kelezatannya itu. Dan keesokan harinya, bisa dipastikan lidah anda akan menagih lagi untuk di-jejali gorengan bakar itu. Dan bagi anda yang kebetulan hanya singgah sebentar saja di Jogja, bisa dipastikan ketika suatu saat anda bertandang lagi, anda akan segera cap-cus menuju angkringan itu. ^_^

Nah, kalo sudah kenyang dari memenuhi perut dengan gorengan bakar, jika akan beranjak pulang dengan menuju arah ke selatan dengan mengambil jalan di Bimokurdo-Bimosakti, maka berhati-hatilah ketika sampai di pertigaan kecil dengan tanda Quick Chicken pada kanan jalan. Karena jika tidak hati-hati, perut yang baru saja terisi penuh pasti akan terkoyak kembali, lantaran terdapat ‘polisi jongkok’ di jalan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya ada 9 polisi jongkok, dengan formasi 3 di arah selatan, 3 di arah utara, dan 3 sisanya di arah barat. Ya, memang polisi jongkok, dan tidak hanya sekedar ‘polisi tidur’ saja, makanya perlu kewaspadaan dan kehati-hatian ekstra saat melintasi jalan tersebut. Apalagi ketika kebetulan bebarengan dengan jam-jam antar jemput SD Muhammadiyah Sapen, yang menimbulkan kemacetan luar biasa. Bagaimana tidak, lawong di jalan yang lumayan sempit dan padat itu, yang antar-jemput hampir semuanya menggunakan mobil? Setidaknya, dari segi itu mereka (para Siswa SD) itu jauh lebih gaya dan mulia, jika dibandingkan dengan para Mahasiswa UIN yang mayoritas masih berjalan atau maksimal naik motor untuk menuju kampusnya.

Jika hanya polisi tidur, maka ketika melintas dan kebetulan anda dalam kecepatan 40-60, paling-paling polisi tidurnya hanya akan terbangun dan ketika akan memukul kita, kita sudah lewat terlalu jauh. Maklum, polisinya kan tidur, jadi dia perlu cuci muka dulu atau minimal menggenapkan dulu nyawanya ketika akan memukul kita. Nah, ketika polisinya jongkok, bagaimana anda akan berkelit ketika melintasinya dengan kecepatan 40-60 itu? Yang ada malah nanti polisi itu akan langsung menangkap anda seketika, karena dia tidak perlu untuk cuci muka atau menggenapkan nyawanya dulu. Dan bisa-bisa kita akan terpelanting dari motor kita. ^_^

Karenanya, jika anda kebetulan melewati jalan itu, maka setidaknya perhatikanlah tips-tips berikut agar tidak dianggap mengganggu dan dapat terhindar dari kejaran polisi jongkok itu;


Pertama; turunkanlah kecepatan. Pasang maksimal 20 saja lah untuk motor. Apalagi jika kebetulan jalan tersebut sedang rame-ramenya, kalo perlu malah turunlah anda dari motor dan tuntunlah motor anda tersebut. ^_^

Kedua; jika tidak ingin ‘melindas’ polisi jongkok itu, dengan alasan khawatir terpelanting, maka ambillah sisi jalan paling pinggir di sebelah polisi jongkok itu. Karena di sisi polisi jongkok itu pasti ada sedikit jalan ‘aman’ untuk kita lewati. Ini demi kenyamanan dan keamanan diri dan motor kita bukan? ^_^


Ketiga; bacalah basmalah, do’a atau sholawat ketika melintasi jalan tersebut. Terutama ketika malam hari. Heuheu ^_^



Selamat menikmati Jogja teman… ^_^




Jogja, 26-12-2012


Nieza Ayoe

Rabu, 14 November 2012

Cerita yang terselip di balik duka


Cerita kelas

Ruangan kelas begitu gaduh, maklum karena sudah kelas III Aliyah, alias III SMA, (dulu; bahasa Talun-nya, kelas VI) dan waktu itu adalah jam terakhir pelajaran hari Kamis. Sesuai dengan tradisi yang ada di sekolah, setiap 2 jam terakhir hari kamis diisi dengan pelajaran latihan ‘unjuk gigi’ di hadapan audience yang beragam, mulai dari kelas III Tsanawiy sampai kelas III Aliyah, yaitu ‘muhadloroh’ (pidato).

Sebenarnya waktu itu bukanlah sekedar untuk latihan pidato saja, melainkan banyak juga aktifitas lain, seperti saat dimana PPM (semacam OSIS) ‘beraksi’ menjalankan tugasnya, mulai dari keliling ke masing-masing kelas, meriksa buku-buku pidato, meriksa kuku panjang, sekaligus waktu latihan upacara bendera (bagi yang bertugas) guna upacara rutinan setiap sabtu pagi di lapangan sekolah tercinta.

Akan tetapi hari itu, aktifitas muhadloroh itu tidak berjalan seperti biasa. PPM yang biasanya berseliweran keluar-masuk kelas pun tidak digubris oleh semua penghuni kelas VI-A-2 (simbol ‘2’ memiliki makna bahwa berarti semua penghuni kelas itu adalah perempuan, sedangkan laki-laki memakai simbol ‘1’) waktu itu. Semua pada sibuk dan rame dengan aktifitas masing-masing sesuka hati mereka. Ada yang sholawatan, bergosip ria, tidur, baca buku, makan jajan, dan sebagainya.

Maklum, beberapa penghuni kelas itu terdiri dari para PPM yg sudah purna di kelas itu, yang baru aja lepas dari jabatannya dan sedang menikmati kebebasannya dari tugas-tugasnya ketika masih menjadi PPM dulu. Akhirnya kelas itu pun menjadi tak terkendali dan menjadi sangat gaduh.

Para PPM baru yang bolak-balik masuk kelas guna melerai kegaduhan dan agar kami melaksanakan muhadloroh seperti layaknya kelas lain pun sia-sia saja, karena hampir semua penghuni kelas (terutama para mantan PPM) telah sepakat untuk ‘menguji’ para PPM baru itu, “biar mentalnya kuat”, seperti itu alasan yang dipaparkan teman-teman.

Sampai akhirnya, tiba-tiba datanglah sesosok laki-laki kurus, tinggi dan hitam manis yang sudah sangat tidak asing di mata kita, masuk dengan menggeleng-gelengkan kepala keheranan melihat tingkah anak-anak didiknya. Kontan saja anak-anak langsung terdiam semua, sambil menahan tawa dan malu.

Dan barangkali karena saking geramnya, akhirnya laki-laki itu pun mengambil sebuah buku kecil dan memukulkannya ke masing-masing kepala seluruh penghuni kelas itu, sembari ‘memarahi’ kami. Kami menahan tawa karena ‘saking menahan malunya’ kepada sosok laki-laki yang kami segani dan hormati itu, bahkan sudah kami anggap sebagai Bapak kedua kami dan kami pun punya panggilan khusus kepada beliau, yaitu ‘papi’.
Ya, beliau adalah kabag kesiswaan sekolah, sekaligus wali kelas kami tercinta waktu itu, yaitu Drs. Mahmudi Thoha (Alm), yang belakangan ketika kami sudah pada lulus, sampai akhir hayatnya (Rabu, 14 Nopember 2012, bertepatan dengan akhir Tahun 1433 H), beliau mendapat amanah dan kepercayaan menjadi kepala sekolah MA di sekolah kami tersebut.

Akhirnya suasana kelas menjadi cukup terkendali pasca itu dan kami (terutama mantan PPM) hanya bisa menahan tawa dan malu karena peristiwa itu.

Ternyata sekarang Beliau sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya, Ah, ustadz, maafin anak-anakmu yang agak ‘bandel’ dan selalu menyusahkanmu ini ...

***

Pertemuan dan Pesan beliau yang ternyata, ‘Terakhir’.

Sampai saat ini pun sebenarnya masih sulit untuk mempercayai bahwa beliau sudah meninggalkan kami untuk selama-lamanya, karena kesan tentang beliau masih terpatri sangat kuat dalam benak kami. Mulai dari ketika beliau memberi pelajaran ‘ushul fiqh’ kepada kami di kelas, sampai pada saat-saat di luar kelas; ketika rapat dengan bagian kesiswaan, berpapasan di tengah jalan, ngobrol rutinan tiap tahun di rumah beliau ketika hari raya, dan sebagainya.

Sekali lagi, beliau adalah sosok yang sangat disegani karena kewibawaan, kebijakan, ketegasan dan kedisiplinan beliau. Dan beliau juga terbilang masih ‘muda’ dan terlalu cepat meninggalkan dunia ini. Yah, mungkin memang ini jalan terbaik untuk beliau yang diberikan-Nya, toh ‘maut’ memang tidak pernah pandang usia.

Masih terekam sangat jelas sekali di ingatan, ketika hari raya Idul Fitri kemarin beliau masih tampak sehat walaupun sebelumnya telah menderita sakit selama kurang lebih 2 bulan. Ya, aku memang selalu menyempatkan diri paling tidak satu tahun sekali (ketika hari raya) untuk bertandang ke rumah beliau. Sampai ada temanku yang agak heran melihat aktifitas rutinku setiap tahun itu.

“nggak tau ya, aku kok seperti beban mental gitu kalo gak ke rumah beliau pas hari raya”,

 jawabku pada temanku ketika dia mengungkapkan keheranannya. Beliau juga masih ‘enak’ diajak ngobrol, dan waktu itu beliau berpesan untukku agar mencarikan film OMAR.

“itu filmnya bagus buat latihan maharah istima’ wi, karena bahasa Arabnya fushha. Saya sudah nyari-nyari di youtube itu juga nggak nemu-nemu. Nanti kalo ada yang punya, kabari ya wi”.

Aku pun menganggukkan kepala, tanda sepakat dengan pendapat beliau itu.

Kurang lebih seminggu sebelum ada berita tentang mangkatnya beliau, ketika aku sedang bertandang ke Book Fair di Jogja yang diadakan oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) di Gedung Wanitatama yang terletak persis di sebelah barat kampus UIN, kebetulan ada yang membuka stand VCD dan DVD serta e-book, dan ada Serial film OMAR disana sebanyak 6 DVD.

Akupun seketika teringat pesan beliau, dan segera menghampiri penjaga stand tersebut untuk menanyakan harga serial tersebut. Selain itu secara pribadi aku juga sangat menginginkan film tersebut.

“260 ribu mbak”,

wah, lumayan juga harganya, batinku.

Ingin sekali membelinya dan memperlihatkannya kepada beliau, tapi kenyataan berkata lain. Aku musti mengurungkan niatku karena kondisi kantong yang kurang mendukung. Maklum, mahasiswa. Ah, kapan-kapan saja lah masih bisa, Pikirku.

***

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un telah meninggal dunia ust. Mahmudi, mohon kiriman do’a dari para alumni dan murid2 nya yang pernah diajar. Lahumul fatihah”.

Pagi sekali ketika adzan subuh baru saja berkumandang, sebagai tanda agar umat muslim segera bangun dari ‘mati sementara’nya untuk segera melaksanakan sholat yang paling berat untuk dilakukan itu meskipun hanya 2 rakaat saja, SMS dari temanku yang di Semarang tersebut masuk di HP-ku.

Mata ini yang awalnya masih sangat berat untuk terbuka, kontan saja langsung terbelalak kaget membaca SMS tersebut. Seketika batinku langsung bergemuruh membaca SMS itu, dan rasa tidak percaya memenuhi fikiranku waktu itu. Sempat termenung beberapa saat, lantaran saking kagetnya, tapi akhirnya aku putuskan untuk tidak berlama-lama berkutat dengan batinku itu.

Segera aku mengambil air wudlu dan ‘laporan’ dulu kepada-Nya. Ba’da sholat aku pun tidak lupa mengirimkan fatihah kepada beliau. Sempat terselip sedikit penyesalan di dada, karena tidak menyempatkan diri membesuk beliau, ketika kemarin hari raya Idul Adha mendengar kabar bahwa beliau masuk Rumah Sakit lagi. Rasa ikhlas kehilangan beliau untuk selama-lamanya pun masih belum pergi dari batinku. Karena memang secara pribadi aku masih punya banyak ‘hutang’ ke beliau.

Masih terekam sangat jelas juga ketika beliau melontarkan pertanyaan yang sedikit ‘menggelitik’;

“Nikahnya kapan wi?”

aku hanya tersenyum, ketika hari raya kemarin sewaktu bertandang ke rumah beliau, pertanyaan itu dilontarkan. Walaupun sebenarnya itu pertanyaan yang wajar sekali dilontarkan kepada murid-murid perempuannya yang sudah lulus S-1.

“Nanti kalo sudah waktunya pak”, jawabku sekenanya sambil tersenyum.

Beliau pun ikut tersenyum mendengar jawabanku itu. Untungnya hanya sampai di situ saja obrolan beliau tentang ‘nikah’, (mungkin karena beliau memahami kondisi sikis-ku yang habis ditinggal nikah oleh sang mantan yang kebetulan beliau juga sangat kenal orangnya itu).

Ketika akan beranjak pulang, beliau berpesan, yang ternyata itu merupakan ‘pesan terakhir’ beliau kepadaku agar serius kuliah dulu, tidak usah terlalu terburu-buru memasang janur kuning di rumah. Mumpung masih muda, begitu kata beliau.

Aku meng-iya-kan saja pesan beliau tersebut. Dan ternyata, harapanku agar nanti beliau menghadiri undangan di hari bahagiaku itu pun harus pupus karena ternyata Allah telah memanggilnya terlebih dahulu.

Sekarang beliau sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Hanya untaian do’a yang bisa kita kirim kepada beliau, semoga beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah, di ampuni segala dosa-dosanya, di terima segala amal baiknya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan oleh Allah. Amin ya Rabbal ‘alamin...

.....“selamat jalan Bapak. Ilmu, pelajaran, pengabdian, dan pengorbanan yang telah engkau berikan kepada kami (semua muridmu) dan juga kepada pondok Attanwir tercinta, tentu akan masih sangat membekas di benak masing-masing, semoga Bapak mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya”.....
***

Ngayogyakartahadiningrat, 15 Nopember 2012
07:25