Tak rugi karena telah mbolos kuliah,
Tak rugi telah berjalan kaki bolak-balik dua kali, dari Jl. Abu Bakar Ali - Nol Km Malioboro,
Tak rugi telah merelakan muka dan lengan tanganku yang menjadi "belang",
Lantaran selama kurang lebih 4 jam tersengat matahari,
Yang panasnya semakin menambah 'panas' api semangatku,
Dan sama sekali tak mengurangi rasa antusiasku mengikuti aksi siang itu,
Sekaligus meliputnya untuk ku sajikan kepada NU Online
Akan tetapi...
Semua itu; rasa capai dan merelakan tangan menjadi 'gosong separo',
Menjadi lenyap seketika tatkala hasil liputanku di muat di NU Online,
Pada keesokan harinya,
Alhamdulillah...
Tak terbentung lagi rasa syukur dan senangku,
Karena bisa berbagi dan memberikan manfaat bagi sesama...
Lihat beritanya di sini ya,
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,44183-lang,id-c,daerah-t,PMII+Lawan+Liberalisasi+Pendidikan-.phpx
Jogja, 03 Mei 2013
Nieza Ayoe
Jumat, 03 Mei 2013
Kamis, 02 Mei 2013
Perdana Bertandang ke PP Aswaja Nusantara
Berkah dari silaturrahim, bisa kenal orang-orang pinter, nambah ilmu, akhirnya mendapat inspirasi dan berita, dan berhasil memunculkannya di NU Online...
Terimakasih Teman-teman baru diskusiku di PP Aswaja Nusantara... (Kang Tafied, Eko, Bayu, Syafi'i, Rahmad, Mas Budi). Andai saja malam itu aku tak ikut, tentu aku tak dapat hal-hal baru.
Nampaknya pertemuan perdana tempo hari, semakin memantikkan api semangatku untuk semakin mendalami jurnalistik, dan aku sangat mengapresiasi karya perdana kalian; Jurnal Mlangi, yang akhirnya berhasil ku publish di NU Online...
Terimakasih, karena PP Aswaja Nusantara telah memberiku banyak inspirasi...
Semoga persahabatan yang kita jalin akan selalu menuai kebaikan bersama, Aamiin
Lihat beritanya di www.nu.or.id
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,44164-lang,id-c,daerah-t,Pesantren+Aswaja+Nusantara+Terbitkan+Jurnal+Ilmiah-.phpx
Jogja, 01 Mei 2013
Nieza Ayoe
Terimakasih Teman-teman baru diskusiku di PP Aswaja Nusantara... (Kang Tafied, Eko, Bayu, Syafi'i, Rahmad, Mas Budi). Andai saja malam itu aku tak ikut, tentu aku tak dapat hal-hal baru.
Nampaknya pertemuan perdana tempo hari, semakin memantikkan api semangatku untuk semakin mendalami jurnalistik, dan aku sangat mengapresiasi karya perdana kalian; Jurnal Mlangi, yang akhirnya berhasil ku publish di NU Online...
Terimakasih, karena PP Aswaja Nusantara telah memberiku banyak inspirasi...
Semoga persahabatan yang kita jalin akan selalu menuai kebaikan bersama, Aamiin
Lihat beritanya di www.nu.or.id
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,44164-lang,id-c,daerah-t,Pesantren+Aswaja+Nusantara+Terbitkan+Jurnal+Ilmiah-.phpx
Jogja, 01 Mei 2013
Nieza Ayoe
Rabu, 01 Mei 2013
Selamat jalan buat Uje…
Kabar tentang
berpulangnya Uje, Jum’at (26/04/2013) sontak mengagetkan seluruh orang. Orang yang
hanya sebatas mengenalnya dan tidak pernah berjumpa pun, bisa dipastikan akan
kaget juga tatkala mendengar berita duka itu. Apalagi orang-orang terdekat
beliau, terlebih istri dan anak-anak beliau, tentu lebih kaget lagi. Ditambah dengan
penyebab meninggalnya, karena kecelakaan. Tentu akan memberikan duka yang cukup
mendalam.
Aku memang tak
begitu nge-fans dengan beliau, meski cukup simpatik, lantaran gaya khas ceramah
beliau yang gaul dan dapat memberikan dampak positif bagi remaja-remaja pada
umumnya, yang kurang begitu tertarik dengan ceramah para kiai-kiai sepuh.
Namun, kehadiran Uje
di ranah publik sebagai da’i muda yang gaul dan modis, dapat dikatakan telah
berhasil merangkul semua pihak, terutama para remaja. Para orang-orang dewasa
pun juga tak sedikit yang tertarik. Maka tak heran jika kepergian Uje yang
begitu mendadak, meninggalkan duka yang begitu mendalam bagi orang-orang yang
menyayanginya.
Meskipun begitu, ada
juga yang memandang Uje dengan sebelah mata, dengan menilai bahwa penampilan
dan gaya yang digunakan Uje–modis, gaul, motor gedhe, glamour, dsb –kurang
patut jika disandingkan dengan gelar da’i.
Yah, wajar saja sih.
Namanya hidup, pasti ada yang suka dan tidak suka. Sunnatullah lah aku
kira.
Walaupun begitu,
masih banyak juga kok yang menyayangi ustadz gaul ini. Terbukti dengan do’a
yang tentu tak akan pernah berhenti mengalir dari orang-orang yang merasa pernah
mendapatkan hal baik dari Uje. Dan seperti kita lihat sendiri, prosesi
pemakaman beliau pun dihadiri oleh ribuan orang, yang tentu saja turut mendo’akan
beliau.
Tak hanya dikenal
sebagai seorang da’i gaul dan da’inya anak muda, beliau juga dikenal sebagai
seorang penyanyi lagu-lagu religi.
Salah satu hal yang cukup
berkesan bagiku adalah, pada bulan Ramadhan tahun lalu, ketika menonton acara Bukan
Empat Mata yang dipandu oleh Tukul yang ditemani Peppy dan Vega, ku dapati
bintang tamunya adalah Uje beserta istrinya-Pipik. Entah tanggal berapa
tepatnya, aku sudah tak mengingatnya.
Ketika itu, aku cukup
terkesan dengan satu lagu yang dinyanyikan oleh beliau, berjudul “bidadari
surgaku”. Tentu lagu tersebut didedikasikan untuk istrinya. Ah,
begitu romantisnya ustadz ini, begitu memuliakan perempuan, pikirku waktu itu.
Sontak setelah itu pun aku langsung mencari lagu itu di youtube, dan aku
berhasil mendapatkannya.
Tak perlu menunggu
beberapa hari untuk menghafalnya. Ini nih liriknya..
Setiap manusia, punya rasa cinta
Yang mampu menjaga kesuciannya
Namun ada kala, insan tak berdaya
Saat dusta mampu bertahta
Ku inginkan dia, yang punya setia
Yang mampu menjaga kesuciannya
Saat ku tak ada, ku jauh darinya
Amanah pun jadi penjaganya
Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku
Engkaulah, bidadari surgaku
Tiada yang memahami, segala kekuranganku
Kecuali kamu, biadadariku
Maafkanlah aku, dengan kebodohanku
Yang tak bisa membimbing dirimu
Engkaulah, bidadari surgaku
Tiada yang memahami, segala kekuranganku
Kecuali kamu, biadadariku
Maafkanlah aku, dengan kebodohanku
Yang tak bisa membimbing dirimu
Engkaulah, bidadari surgaku
Rabbana hab lana, min azwajina
Wa dzurriyyatina, qurrata a’yun
Waj’alna, lil muttaqiina imama
Wa dzurriyyatina, qurrata a’yun
Waj’alna, lil muttaqiina imama
Yah, ku rasai lagu
itu begitu memulaikan perempuan. tak heran jika saat Uje menyanyikan lagu itu,
sang istri tak bisa membendung air matanya karena rasa haru. Dan saat aku
mendengar lagu itu, jujur ku katakan bahwa hatiku cukup merinding dengan
kedalaman nilai lagu itu.
Tak jarang pula, air
mataku menetes sendiri tatkala mendengarnya dalam kesunyian dan kesendirian. Sembari
membayangkan, kelak suamiku akan menyanyikan lagu itu untukku, ah betapa
bahagianya hati sang istri ketika sang suami mempersembahkan lagu itu untuknya.
Semua perempuan, tentu akan merasakan hal yang sama.
Selamat jalan buat Uje,
semoga arwah beliau diterima di sisi Allah, mendapatkan tempat yang mulia,
diterima segala amal baiknya, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang
ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan untuk bertahan hidup. Amin ya
Rabb
Ya, semua memang
milikNya, dan tentu akan kembali padaNya…
Kita tinggal siap-siap
dan menunggu waktunya tiba saja…
Jogja, 01 Mei 2013
18:09
Nieza Ayoe
Jumat, 26 April 2013
Gusdurian ‘Ngaji’ RUU Ormas
Yogyakarta, NU
Online
Rancangan
Undang-Undang Organisasi Masyarakat (RUU Ormas) yang masih menimbulkan
kontroversi di berbagai kalangan, membuat SekNas GUSDURian tergerak untuk mendiskusikan
hal itu.
Dengan
mengangkat tema “Kontroversi RUU Ormas”, diskusi berlangsung santai dan
cukup aktif, Jum’at (26/04) malam, dengan pembicara Bapak Zuly Qodir yang
merupakan Dosen salah satu Universitas di Yogyakarta.
Diskusi ini merupakan
program Seknas Gusdurian yang dilaksanakan pada hari Jum’at terakhir setiap
bulan di Griya GUSDURian, Jl. Damai Gg. Sunan Giri No.33 B Sindulharjo Ngaglik
Sleman.
Menurut Zuly
Qodir, ada tiga hal yang perlu dicermati pada proses kemunculan RUU Ormas.
Pertama, Negara memandang bahwa masyarakat
sipil itu susah diatur, maka perlu diadakannya UU Ormas. Hal itu tentu tidak
benar, karena pada kenyataannya masyarakat sipil-lah yang paling mudah untuk
diatur.
Kedua, jika memang tujuan diadakannya
RUU Ormas adalah untuk membubarkan Ormas – terutama Ormas keagamaan – yang suka
membuat kekerasan dan keonaran, maka seharusnya hanya perlu memaksimalkan saja
UU yang telah disusun sebelumnya; UU tentang pembubaran Ormas bergaris keras.
Ketiga, seharusnya Negara itu memandang
Ormas sebagai mitra kerja Negara.
“Kontribusi
Ormas, misalnya NU itu tidak bisa diremehkan lho oleh Negara. Misalnya
saja, kalau nggak ada NU ya mungkin kita nggak bisa mengaji”,
papar pemateri yang segera diikuti gelak tawa para peserta.
RUU Ormas memang
dinilai masih belum memiliki tujuan dan konsep yang jelas. Hal tersebut dapat
diamati dari penggalan setiap bab maupun pasal yang terdapat di dalamnya. Dan
RUU Ormas pun tidak akan dapat menjamin terciptanya kondisi yang lebih baik.
Maka, solusi
yang dapat ditawarkan agar tidak disahkannya RUU Ormas adalah dengan menegakkan
kembali hukum yang telah ada, atau dengan gerakan persatuan massa yang sangat
kuat, tungkas Zuly di akhir diskusi malam itu.
check it out in http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,44054-lang,id-c,nasional-t,Gusdurian+%E2%80%98Ngaji%E2%80%99+RUU+Ormas-.phpx
Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’
Kamis, 25 April 2013
Ngaji lagi tentang Kartini yuk…
“Salah satu hal penting yang dapat kita
tarik sebagai 'benang merah', perihal kenapa Kartini lebih dikenal, daripada
pahlawan perempuan lain, seperti Dewi Sartika, Cut Nya' Dhien, dsb. Simpel,
yaitu karena dia MENULIS.”
Itulah salah satu pernyataan menarik dari
Ibu Siti Ruhaini Dzuhayatin di salah satu ruangan lantai dua gedung rektorat
lama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Diskusi bulanan kali itu merupakan
diskusi perdana yang diadakan oleh Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, Rabu (24/04/2013).
Dengan mengusung tema “Islam, Gender,
dan Keindonesiaan”, diskusi pada pagi menjelang siang itu berlangsung cukup
ramai dengan kuota peserta sekitar 30an orang.
Sehubungan dengan momen hari Kartini pada
tanggal 21 April kemarin, Ibu Eni, demikian sapaan akrab dari Ibu Ruhaini
memaparkan tentang Kartini dan emansipasi perempuan. Lebih lanjut lagi, dia
menyitir salah satu ungkapan Harsya Bachtiyar tentang Kartini yang berbunyi,
“Konstruksi kolonial politik etis yang tidak mengakar pada historisitas
Indonesia”.
Kemudian Ibu Eni juga memaparkan hasil
penelitian Joose Cottee dari Belanda, yang telah melakukan analisa terhadap
tulisan-tulisan Kartini, terutama dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dari penelitian yang telah dilakukan
Joose itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa setidaknya ada tiga hal yang
menjadikan kenapa Kartini – sampai saat ini – masih menjadi pahlawan wanita
yang paling dielu-elukan oleh masyarakat, akan tetapi tanpa menafikan juga
peran dan sumbangsih pahlawan-pahlawan perempuan Indonesia lainnya, seperti
Dewi Sartika, Cut Nya’ Dhien, dan sebagainya.
Tiga hal itu adalah:
Pertama,
jejaknya (lebih tepatnya, jejak pemikirannya) terdokumentasi secara sistematis.
Bukti kongkritnya masih dapat kita nikmati sampai sekarang, yaitu buku Habis
Gelap Terbitlah Terang. Dapat kita bayangkan, bagaimana misalnya Kartini
saat itu tidak berkorespondensi dengan sahabatnya dari Eropa; Stella, bisa jadi
jejak pemikirannya juga tidak akan sampai kepada kita sekarang. dan hal itu
tentu hanya akan menjadi sebuah kenangan sejarah yang hanya bisa diketahui oleh
orang-orang yang hidup di zaman tersebut.
Kedua,
objektivikasi dari subjektivikasi. Maksudnya di sini adalah, kita tahu bahwa
surat-surat kartini sebenarnya adalah curahan hatinya dan masalahnya secara
pribadi. Akan tetapi yang menarik bahwa dari masalah pribadi tersebut, Kartini
dapat menyajikan sebuah tulisan yang dapat digeneralisasikan, dan didapati
masalah dan solusinya secara objektif memang masih relevan dengan masa
sekarang.
Ketiga,
keputusan politik. Yakni adanya hegemoni budaya Jawa dalam pentas politik pada
masa itu.
Selanjutnya, dipaparkan oleh Pemateri
tentang “Spektrum Emansipasi Perempuan dan Relasi Keluarga” menurut J.
Zanzoni, yaitu:
Pertama,
property owner. Ini terjadi pada zaman feodalisme klasik, dimana
pandangan ini menyatakan bahwa kemuthlakan kepemilikan keluarga ada di tangan
laki-laki sepenuhnya. Jadi istri dan anak berada dalam genggaman dan kuasa
laki-laki, karena mereka; istri dan anak, hidup dari hasil uang laki-laki. Maka
istri dan anak pun layak dijual, dihadiahkan layaknya sebuah ‘barang’.
Hal ini seperti yang terjadi pada kehidupan
orangtua Kartini pada masa itu. diceritakan bahwa ketika sang suami – ayah
Kartini – memiliki istri baru, maka sesuai adat yang berlaku pada masa itu
adalah, keluarga ningrat harus menikah dengan ningrat pula. Maka ayah kartini
yang memang berdarah ningrat itu, diminta untuk menikahi putri ningrat dari
kerajaan Madura. Walaupun kondisi saat itu dia sudah menikah. Alhasil, karena
istri pertama – Ibu dari Kartini – tidak berdarah ningrat, maka dia pun menjadi
tidak diakui. Belakangan malah justru dia diakui sebagai “pengasuh” dari
Kartini. Benar-benar miris!!!!!
Kedua, Head Complement.
Ini terjadi pada zaman feodalisme modern. Dimana pembagian kerja antara
laki-laki dan perempuan adalah, laki-laki sebagai pencari nafkah dan kepala
keluarga, sedangkan perempuan adalah pengurus keluarga/ rumah.
Ketiga, Senior-Junior Complement.
Ini terjadi pada keluarga Kartini. Dimana pembagian wilayah antara laki-laki
dan perempuan adalah, laki-laki sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga,
sedangkan perempuan selain mengurus
keluarga di rumah, juga memiliki peran sosial di masyarakat, akan tetapi belum
sampai pada peran ekonomi.
Keempat, Senior-Junior Partnership.
Ini terjadi pada masyarakat Muhammadiyah di Kauman (berdasarkan penelitian Ibu
Eni), dimana pembagian peran antara laki-laki dan perempuan adalah antara suami
dan istri sama-sama memiliki peran ekonomi dan sosial, walaupun suami sebagai
kepala keluarga.
Kelima, Equal Partnership.
Ini terjadi pada masyarakat pedagang di Laweyan (pada masa tradisional), juga
pada masyarakat modern yang menganut kesetaraan. Dimana dalam hal ini,
pembagian peran antara laki-laki dan perempuan adalah keduanya sama-sama
memiliki peran dalam hal kultural, sosial, ekonomi, dan politik.
Begitulah gambaran spectrum emansipasi
perempuan dan relasi keluarga menurut J. Zanzoni. Mungkin dapat menjadi
referensi gambaran model keluarga seperti apa yang akan diterapkan kelak, ^_^
Ada sebuah cerita menarik yang dipaparkan
oleh Ibu Eni waktu itu, tentang perjanjian yang dibuat oleh Kartini dan
suaminya dalam ikatan pernikahan mereka. Akan tetapi na’asnya, cerita itu
seperti dihilangkan begitu saja dari putaran sejarah. Berikut ceritanya,
Jadi Kartini saat menikah dengan
suaminya, dia memberikan tiga hal yang pantang untuk dilanggar dalam ikatan
pernikahan mereka. Tiga hal itu adalah:
1.
Tidak ada
komunikasi dengan bahasa Jawa halus/ karma
2.
Tidak ada
tradisi mencium tangan suami ketika hendak apapun dan kemanapun
3.
Tidak ada
poligami
Suaminya sepakat. Akan tetapi tidak untuk
waktu yang lama, karena beberapa saat setelah itu suaminya melanggar salah satu
isi perjanjian tersebut, dan suaminya melakukan poligami dengan menikahi
perempuan lain.
Hati Kartini pun remuk redam, hancur
lebur, dan dipenuhi dengan amarah yang membuncah. Maka sebagai bentuk atau
sikap pemberontakan terhadap suaminya, praktis setelah suaminya melakukan
poligami, semangat menulis Kartini menurun, ia jadi tidak menulis serajin dan
seintens sebelumnya. Dan satu sikap yang paling memberontak adalah dengan pisah
ranjang dengan suaminya, dan Kartini memilih tidur di shofa sampai ia meninggal!
Sungguh pemberontakan yang luar biasa. Akan
tetapi cerita tersebut seolah-olah dihilangkan dari poros sejarah, mungkin demi
menciptakan imej bahwa Kartini adalah bukan sosok yang tidak berani dan
tidak bisa memberontak terhadap hal-hal yang mengungkungnya. Itu salah besar! Itu
yang perlu kita catat.
Ah, andai Kartini
tidak mati semuda itu; pada usia 25 tahun, maka mungkin saja pemikiran dan
gagasannya tentu akan lebih meluas pada berbagai macam hal, terutama tentang
Islam.
Satu hal lagi yang dapat kita tarik
sebagai sebuah pembelajaran dari seorang Kartini adalah, bagaimana dia berfikir
ala Eropa, tapi bertindak ala Indonesia (Think globally, act locally).
Demikian oleh-oleh yang ku dapat dari
mengikuti kajian perdana di PSW. Semoga ada manfaatnya ya…
Makasih banget kalo udah mau baca
coretan-coretan ini, saran dan kritik yang membangun, silahan disampaikan ya…
gratis kok, ^_^
Yogyakarta, 25 April 2013
15:27
Nieza Ayoe
Minggu, 21 April 2013
Latihan Nulis Berita (II), Monggo kritik dan sarannya ya buat pemula :)
HARI KARTINI
KOPRI PMII
D.I Yogyakarta: Kami Menolak Sanggul dan Kebaya dalam Perayaan Kartini
Dalam rangka
memperingati hari Kartini, KOPRI (Korp PMII Putri) Daerah Istimewa Yogyakarta,
bekerjasama dengan berbagai organisasi dan komunitas Yogyakarta, menggelar acara
“Malam untuk Kartini: Membaca Surat-Surat Kartini Dan Melanjutkan Perjuangan
Kemerdekaan Perempuan” di depan Gedung Agung, Yogyakarta, Minggu (21/04/13)
malam.
Selain
KOPRI, acara ini diikuti oleh berbagai individu maupun komunitas peduli
perempuan yang ada di kota Yogyakarta, seperti Perempuan Mahardika Yogyakarta,
Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO), Sarinah, KAMMI, Ekspresi, Gema Hijabers Community,
Ninas Real Madrid Yogyakarta, dan sebagainya.
Menurut
ketua umum KOPRI DI Yogyakarta Icha Sulaiman, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk
membongkar kebohongan-kebohongan sejarah tentang Kartini yang selama ini telah
dibuat oleh para penguasa orde baru.
“Maka kembali
menyerukan membaca surat-surat Kartini, melihat kembali dengan kritis apa yang
dikehendakinya, dan tentu meneruskan perjuangannya adalah hal yang penting demi
melawan mainstream yang telah mengakar selama ini”, tutur Icha, sapaan
akrab ketua KOPRI DI Yogyakarta tersebut.
Acara malam
itu memang terlihat berbeda dengan mayoritas acara peringatan hari Kartini
selama ini, dimana hampir semua pelaksanaanya adalah dengan mengadakan acara
berkebaya, bersanggul, masak-memasak, rias-merias, dan sebagainya. Menurutnya, perayaan
semacam itu malah akan semakin mendukung domestika perempuan, yang sejatinya
begitu ditentang oleh Kartini dalam surat-suratnya.
“Justru kegiatan
semacam itu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam
surat-surat Kartini. Jadi, agenda ini memang kami gelar tanpa sanggul, kebaya,
masak-memasak ataupun rias-merias ala orde baru, dan kami menentangnya. Melanjutkan
perjuangannya, melawan kekerasan seksual dan pemiskinan terhadap perempuan
adalah kepentingan kami. Kartini sudah memulai, mari kita lanjutkan
perjuangannya”, tandas perempuan yang saat ini sedang menjalankan studi di
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Adapun
selain pembacaan 21 surat Kartini kepada sahabatnya; Stella oleh
perempuan-perempuan dari berbagai komunitas, acara ini juga dimeriahkan oleh
sejumlah aktifis laki-laki PMII dengan membacakan orasi dan puisi tentang
perempuan.
“Hari
Kartini tidak hanya milik kaum perempuan, tapi milik kita semua. Dan dalam
konsep agama apapun, sebenarnya sangat menjunjung tinggi perempuan. Sejarah
telah membuktikan, bahwa banyak sektor yang telah dipelopori oleh perempuan,
seperti pertanian. Maka Kartini merupakan contoh yang patut kita tiru
selanjutnya”, papar Imam S Arizal selaku Ketua Umum Cabang PMII DI Yogyakarta
dalam orasinya.
Acara
berlangsung dengan santai dan ramai. Selain karena lokasi yang tepat berada di
kawasan titik nol kilometer sebagai pusat keramaian kota Yogyakarta, seluruh
peserta yang hadir begitu antusias membacakan surat-surat Kartini, pun juga
dengan para waria-waria yang dengan penuh semangat jiwa peduli perempuan, turut
serta membacakan beberapa surat Kartini.
Para peserta
juga terlihat begitu menikmati, serta merespon positif acara tersebut. Mila,
salah seorang peserta pembaca surat Kartini yang berasal dari komunitas Sarinah,
menuturkan bahwa ia sangat mendukung gerakan semacam ini. “Saya menilai
kegiatan semacam ini positif. Walaupun tidak memberikan bukti kongkrit, tapi
setidaknya ada upaya pelurusan terhadap kegiatan perayaan dan pemaknaan tentang
perjuangan Kartini yang telah menjamur dalam masyarakat selama ini. Salah
satunya adalah dengan membaca kembali surat-surat Kartini”, papar perempuan
yang merupakan mahasiswa Filsafat UGM tersebut.
Para panitia
penyelenggara kegiatan ini juga mengharapkan bahwa kegiatan malam itu bukan
sebatas ceremonial belaka, dimana terjadi ke-mandeg-an setelah acara
selesai dan tidak ada tindak lanjut. “kita akan dan harus tetap memperjuangkan
cita-cita Kartini, dan ke depan akan tetap diadakan diskusi sebagai kelanjutan
dari kegiatan ini”, tutur salah seorang panitia di penghujung acara.
Kontributor
: Dwi Khoirotun Nisa’
Latihan Nulis Berita (I), Monggo kritik dan sarannya ya buat pemula :)
HARLAH KE-53
PMII
PC PMII D.I
Yogyakarta Helat Pagelaran Seni dan Budaya Nusantara
Yogyakarta, NU
Online
Pagelaran
seni dan budaya nusantara yang diadakan oleh Pengurus Cabang Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu (20/04)
malam berlangsung cukup ramai. Tampak para aktivis PMII datang secara berduyun-duyun
memadati gedung Multi Purpose (MP) UIN Sunan Kalijaga sebagai lokasi
acara yang terletak di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Dengan
mengangkat tema “Menggerakkan Tradisi Menuju Perdamaian NKRI”, acara ini
merupakan puncak rangkaian Pekan Sahabat Nasional 2013 yang telah berlangsung
sejak 16 April 2013, dalam rangka memperingati hari lahir PMII ke-53.
Acara ini
dihelat sebagai salah satu bentuk tanggungjawab mahasiswa dalam rangka
mewujudkan perdamaian NKRI sebagai salah satu dari empat pilar Negeri ini yang
harus dipertahankan. Jadi, mahasiswa sudah tidak sepatutnya lagi hanya
menggelar aksi turun di jalan, tapi juga harus mampu berkontribusi dengan
kongkrit demi mewujudkan perdamaian NKRI. Demikian diungkapkan Imam S Arizal
selaku ketua umum cabang PMII D.I Yogaykarta dalam sambutannya malam itu.
Karena ke
depan, Indonesia tidak hanya akan mendapatkan tantangan dari luar saja, akan
tetapi juga dari dalam negeri sendiri. Dan hari ini, bangsa kita tiada terasa
telah dijajah oleh ‘orang dalam’ sendiri demi kepentingan sesaat, semisal
beberapa kasus kekerasan dan tindakan premanisme yang belakangan kerap
menghebohkan kota dengan slogan berhati nyaman ini. Tandas sosok yang merupakan
alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.
Acara malam
itu dibuka dengan penampilan kelompok musik patrol yang merupakan musik khas
kota Jember Jawa Timur, dengan mendendangkan lagu jaranan dan padhang
bulan. Acara ini juga diisi dengan orasi kebangsaan oleh H. Idham Samawi,
selaku anggota IKA-PMII Yogyakarta sekaligus mantan Bupati Kabupaten Bantul.
Selain orasi
kebangsaan, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan tarian dan musik
kelompok mahasiswa dari berbagai daerah, seperti tari Muang Sangkal (Sumenep
Madura), tari Briuk Tinjal (Lombok NTB), tari dan kesenian Sumatera Selatan, musik
Tongtong (Jember Jawa Timur), Gorong-Gorong Institute, Komunitas Rudal
Yogyakarta, dan Orkes Gambus Al-Jamiah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pagelaran
tersebut berakhir dengan tertib sekitar pukul 00:00 malam. Para hadirin pada
malam itu seakan mendapat suntikan semangat baru, agar lebih mencintai,
melestarikan dan mempertahankan budaya nusantara sebagai salah satu aset
bangsa.
check it out in http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,43960-lang,id-c,daerah-t,PMII+DIY+Helat+Pagelaran+Seni+dan+Budaya+Nusantara-.phpx
Kontributor: Dwi
Khoirotun Nisa’
Langganan:
Postingan (Atom)


