Jumat, 03 Mei 2013

Oleh-oleh Peringatan Hardiknas

Tak rugi karena telah mbolos kuliah,
Tak rugi telah berjalan kaki bolak-balik dua kali, dari Jl. Abu Bakar Ali - Nol Km Malioboro,
Tak rugi telah merelakan muka dan lengan tanganku yang menjadi "belang",
Lantaran selama kurang lebih 4 jam tersengat matahari,
Yang panasnya semakin menambah 'panas' api semangatku,
Dan sama sekali tak mengurangi rasa antusiasku mengikuti aksi siang itu,
Sekaligus meliputnya untuk ku sajikan kepada NU Online

Akan tetapi...

Semua itu; rasa capai dan merelakan tangan menjadi 'gosong separo',
Menjadi lenyap seketika tatkala hasil liputanku di muat di NU Online,
Pada keesokan harinya,
Alhamdulillah...

Tak terbentung lagi rasa syukur dan senangku,
Karena bisa berbagi dan memberikan manfaat bagi sesama...

Lihat beritanya di sini ya,
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,44183-lang,id-c,daerah-t,PMII+Lawan+Liberalisasi+Pendidikan-.phpx


Jogja, 03 Mei 2013

Nieza Ayoe

Kamis, 02 Mei 2013

Perdana Bertandang ke PP Aswaja Nusantara

Berkah dari silaturrahim, bisa kenal orang-orang pinter, nambah ilmu, akhirnya mendapat inspirasi dan berita, dan berhasil memunculkannya di NU Online...

Terimakasih Teman-teman baru diskusiku di PP Aswaja Nusantara... (Kang Tafied, Eko, Bayu, Syafi'i, Rahmad, Mas Budi). Andai saja malam itu aku tak ikut, tentu aku tak dapat hal-hal baru.

Nampaknya pertemuan perdana tempo hari, semakin memantikkan api semangatku untuk semakin mendalami jurnalistik, dan aku sangat mengapresiasi karya perdana kalian; Jurnal Mlangi, yang akhirnya berhasil ku publish di NU Online...

Terimakasih, karena PP Aswaja Nusantara telah memberiku banyak inspirasi...

Semoga persahabatan yang kita jalin akan selalu menuai kebaikan bersama, Aamiin

Lihat beritanya di www.nu.or.id
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,44164-lang,id-c,daerah-t,Pesantren+Aswaja+Nusantara+Terbitkan+Jurnal+Ilmiah-.phpx



Jogja, 01 Mei 2013

Nieza Ayoe

Rabu, 01 Mei 2013

Selamat jalan buat Uje…



Kabar tentang berpulangnya Uje, Jum’at (26/04/2013) sontak mengagetkan seluruh orang. Orang yang hanya sebatas mengenalnya dan tidak pernah berjumpa pun, bisa dipastikan akan kaget juga tatkala mendengar berita duka itu. Apalagi orang-orang terdekat beliau, terlebih istri dan anak-anak beliau, tentu lebih kaget lagi. Ditambah dengan penyebab meninggalnya, karena kecelakaan. Tentu akan memberikan duka yang cukup mendalam.

Aku memang tak begitu nge-fans dengan beliau, meski cukup simpatik, lantaran gaya khas ceramah beliau yang gaul dan dapat memberikan dampak positif bagi remaja-remaja pada umumnya, yang kurang begitu tertarik dengan ceramah para kiai-kiai sepuh.

Namun, kehadiran Uje di ranah publik sebagai da’i muda yang gaul dan modis, dapat dikatakan telah berhasil merangkul semua pihak, terutama para remaja. Para orang-orang dewasa pun juga tak sedikit yang tertarik. Maka tak heran jika kepergian Uje yang begitu mendadak, meninggalkan duka yang begitu mendalam bagi orang-orang yang menyayanginya.

Meskipun begitu, ada juga yang memandang Uje dengan sebelah mata, dengan menilai bahwa penampilan dan gaya yang digunakan Uje–modis, gaul, motor gedhe, glamour, dsb –kurang patut jika disandingkan dengan gelar da’i.

Yah, wajar saja sih. Namanya hidup, pasti ada yang suka dan tidak suka. Sunnatullah lah aku kira.

Walaupun begitu, masih banyak juga kok yang menyayangi ustadz gaul ini. Terbukti dengan do’a yang tentu tak akan pernah berhenti mengalir dari orang-orang yang merasa pernah mendapatkan hal baik dari Uje. Dan seperti kita lihat sendiri, prosesi pemakaman beliau pun dihadiri oleh ribuan orang, yang tentu saja turut mendo’akan beliau.

Tak hanya dikenal sebagai seorang da’i gaul dan da’inya anak muda, beliau juga dikenal sebagai seorang penyanyi lagu-lagu religi.

Salah satu hal yang cukup berkesan bagiku adalah, pada bulan Ramadhan tahun lalu, ketika menonton acara Bukan Empat Mata yang dipandu oleh Tukul yang ditemani Peppy dan Vega, ku dapati bintang tamunya adalah Uje beserta istrinya-Pipik. Entah tanggal berapa tepatnya, aku sudah tak mengingatnya.

Ketika itu, aku cukup terkesan dengan satu lagu yang dinyanyikan oleh beliau, berjudul “bidadari surgaku”. Tentu lagu tersebut didedikasikan untuk istrinya. Ah, begitu romantisnya ustadz ini, begitu memuliakan perempuan, pikirku waktu itu. Sontak setelah itu pun aku langsung mencari lagu itu di youtube, dan aku berhasil mendapatkannya.

Tak perlu menunggu beberapa hari untuk menghafalnya. Ini nih liriknya..

Setiap manusia, punya rasa cinta
Yang mampu menjaga kesuciannya
Namun ada kala, insan tak berdaya
Saat dusta mampu bertahta

Ku inginkan dia, yang punya setia
Yang mampu menjaga kesuciannya
Saat ku tak ada, ku jauh darinya
Amanah pun jadi penjaganya

Hatimu tempat berlindungku
Dari kejahatan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku

Engkaulah, bidadari surgaku

Tiada yang memahami, segala kekuranganku
Kecuali kamu, biadadariku
Maafkanlah aku, dengan kebodohanku
Yang tak bisa membimbing dirimu


Engkaulah, bidadari surgaku

Rabbana hab lana, min azwajina
Wa dzurriyyatina, qurrata a’yun 
Waj’alna, lil muttaqiina imama

Yah, ku rasai lagu itu begitu memulaikan perempuan. tak heran jika saat Uje menyanyikan lagu itu, sang istri tak bisa membendung air matanya karena rasa haru. Dan saat aku mendengar lagu itu, jujur ku katakan bahwa hatiku cukup merinding dengan kedalaman nilai lagu itu.

Tak jarang pula, air mataku menetes sendiri tatkala mendengarnya dalam kesunyian dan kesendirian. Sembari membayangkan, kelak suamiku akan menyanyikan lagu itu untukku, ah betapa bahagianya hati sang istri ketika sang suami mempersembahkan lagu itu untuknya. Semua perempuan, tentu akan merasakan hal yang sama.

Selamat jalan buat Uje, semoga arwah beliau diterima di sisi Allah, mendapatkan tempat yang mulia, diterima segala amal baiknya, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan untuk bertahan hidup. Amin ya Rabb

Ya, semua memang milikNya, dan tentu akan kembali padaNya…
Kita tinggal siap-siap dan menunggu waktunya tiba saja…



Jogja, 01 Mei 2013
18:09

Nieza Ayoe

Jumat, 26 April 2013

Gusdurian ‘Ngaji’ RUU Ormas




Yogyakarta, NU Online
Rancangan Undang-Undang Organisasi Masyarakat (RUU Ormas) yang masih menimbulkan kontroversi di berbagai kalangan, membuat SekNas GUSDURian tergerak untuk mendiskusikan hal itu.

Dengan mengangkat tema “Kontroversi RUU Ormas”, diskusi berlangsung santai dan cukup aktif, Jum’at (26/04) malam, dengan pembicara Bapak Zuly Qodir yang merupakan Dosen salah satu Universitas di Yogyakarta.

Diskusi ini merupakan program Seknas Gusdurian yang dilaksanakan pada hari Jum’at terakhir setiap bulan di Griya GUSDURian, Jl. Damai Gg. Sunan Giri No.33 B Sindulharjo Ngaglik Sleman.

Menurut Zuly Qodir, ada tiga hal yang perlu dicermati pada proses kemunculan RUU Ormas.

Pertama, Negara memandang bahwa masyarakat sipil itu susah diatur, maka perlu diadakannya UU Ormas. Hal itu tentu tidak benar, karena pada kenyataannya masyarakat sipil-lah yang paling mudah untuk diatur.  

Kedua, jika memang tujuan diadakannya RUU Ormas adalah untuk membubarkan Ormas – terutama Ormas keagamaan – yang suka membuat kekerasan dan keonaran, maka seharusnya hanya perlu memaksimalkan saja UU yang telah disusun sebelumnya; UU tentang pembubaran Ormas bergaris keras.

Ketiga, seharusnya Negara itu memandang Ormas sebagai mitra kerja Negara.

“Kontribusi Ormas, misalnya NU itu tidak bisa diremehkan lho oleh Negara. Misalnya saja, kalau nggak ada NU ya mungkin kita nggak bisa mengaji”, papar pemateri yang segera diikuti gelak tawa para peserta.

RUU Ormas memang dinilai masih belum memiliki tujuan dan konsep yang jelas. Hal tersebut dapat diamati dari penggalan setiap bab maupun pasal yang terdapat di dalamnya. Dan RUU Ormas pun tidak akan dapat menjamin terciptanya kondisi yang lebih baik.

Maka, solusi yang dapat ditawarkan agar tidak disahkannya RUU Ormas adalah dengan menegakkan kembali hukum yang telah ada, atau dengan gerakan persatuan massa yang sangat kuat, tungkas Zuly di akhir diskusi malam itu.


Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Kamis, 25 April 2013

Ngaji lagi tentang Kartini yuk…



“Salah satu hal penting yang dapat kita tarik sebagai 'benang merah', perihal kenapa Kartini lebih dikenal, daripada pahlawan perempuan lain, seperti Dewi Sartika, Cut Nya' Dhien, dsb. Simpel, yaitu karena dia MENULIS.”

Itulah salah satu pernyataan menarik dari Ibu Siti Ruhaini Dzuhayatin di salah satu ruangan lantai dua gedung rektorat lama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Diskusi bulanan kali itu merupakan diskusi perdana yang diadakan oleh Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (24/04/2013).

Dengan mengusung tema “Islam, Gender, dan Keindonesiaan”, diskusi pada pagi menjelang siang itu berlangsung cukup ramai dengan kuota peserta sekitar 30an orang.

Sehubungan dengan momen hari Kartini pada tanggal 21 April kemarin, Ibu Eni, demikian sapaan akrab dari Ibu Ruhaini memaparkan tentang Kartini dan emansipasi perempuan. Lebih lanjut lagi, dia menyitir salah satu ungkapan Harsya Bachtiyar tentang Kartini yang berbunyi, “Konstruksi kolonial politik etis yang tidak mengakar pada historisitas Indonesia”.

Kemudian Ibu Eni juga memaparkan hasil penelitian Joose Cottee dari Belanda, yang telah melakukan analisa terhadap tulisan-tulisan Kartini, terutama dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dari penelitian yang telah dilakukan Joose itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa setidaknya ada tiga hal yang menjadikan kenapa Kartini – sampai saat ini – masih menjadi pahlawan wanita yang paling dielu-elukan oleh masyarakat, akan tetapi tanpa menafikan juga peran dan sumbangsih pahlawan-pahlawan perempuan Indonesia lainnya, seperti Dewi Sartika, Cut Nya’ Dhien, dan sebagainya.

Tiga hal itu adalah:

Pertama, jejaknya (lebih tepatnya, jejak pemikirannya) terdokumentasi secara sistematis. Bukti kongkritnya masih dapat kita nikmati sampai sekarang, yaitu buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Dapat kita bayangkan, bagaimana misalnya Kartini saat itu tidak berkorespondensi dengan sahabatnya dari Eropa; Stella, bisa jadi jejak pemikirannya juga tidak akan sampai kepada kita sekarang. dan hal itu tentu hanya akan menjadi sebuah kenangan sejarah yang hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang hidup di zaman tersebut.

Kedua, objektivikasi dari subjektivikasi. Maksudnya di sini adalah, kita tahu bahwa surat-surat kartini sebenarnya adalah curahan hatinya dan masalahnya secara pribadi. Akan tetapi yang menarik bahwa dari masalah pribadi tersebut, Kartini dapat menyajikan sebuah tulisan yang dapat digeneralisasikan, dan didapati masalah dan solusinya secara objektif memang masih relevan dengan masa sekarang.
Ketiga, keputusan politik. Yakni adanya hegemoni budaya Jawa dalam pentas politik pada masa itu.

Selanjutnya, dipaparkan oleh Pemateri tentang “Spektrum Emansipasi Perempuan dan Relasi Keluarga” menurut J. Zanzoni, yaitu:

Pertama, property owner. Ini terjadi pada zaman feodalisme klasik, dimana pandangan ini menyatakan bahwa kemuthlakan kepemilikan keluarga ada di tangan laki-laki sepenuhnya. Jadi istri dan anak berada dalam genggaman dan kuasa laki-laki, karena mereka; istri dan anak, hidup dari hasil uang laki-laki. Maka istri dan anak pun layak dijual, dihadiahkan layaknya sebuah ‘barang’.

Hal ini seperti yang terjadi pada kehidupan orangtua Kartini pada masa itu. diceritakan bahwa ketika sang suami – ayah Kartini – memiliki istri baru, maka sesuai adat yang berlaku pada masa itu adalah, keluarga ningrat harus menikah dengan ningrat pula. Maka ayah kartini yang memang berdarah ningrat itu, diminta untuk menikahi putri ningrat dari kerajaan Madura. Walaupun kondisi saat itu dia sudah menikah. Alhasil, karena istri pertama – Ibu dari Kartini – tidak berdarah ningrat, maka dia pun menjadi tidak diakui. Belakangan malah justru dia diakui sebagai “pengasuh” dari Kartini. Benar-benar miris!!!!!

Kedua, Head Complement. Ini terjadi pada zaman feodalisme modern. Dimana pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan adalah, laki-laki sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga, sedangkan perempuan adalah pengurus keluarga/ rumah.

Ketiga, Senior-Junior Complement. Ini terjadi pada keluarga Kartini. Dimana pembagian wilayah antara laki-laki dan perempuan adalah, laki-laki sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga, sedangkan perempuan  selain mengurus keluarga di rumah, juga memiliki peran sosial di masyarakat, akan tetapi belum sampai pada peran ekonomi.

Keempat, Senior-Junior Partnership. Ini terjadi pada masyarakat Muhammadiyah di Kauman (berdasarkan penelitian Ibu Eni), dimana pembagian peran antara laki-laki dan perempuan adalah antara suami dan istri sama-sama memiliki peran ekonomi dan sosial, walaupun suami sebagai kepala keluarga.

Kelima, Equal Partnership. Ini terjadi pada masyarakat pedagang di Laweyan (pada masa tradisional), juga pada masyarakat modern yang menganut kesetaraan. Dimana dalam hal ini, pembagian peran antara laki-laki dan perempuan adalah keduanya sama-sama memiliki peran dalam hal kultural, sosial, ekonomi, dan politik.

Begitulah gambaran spectrum emansipasi perempuan dan relasi keluarga menurut J. Zanzoni. Mungkin dapat menjadi referensi gambaran model keluarga seperti apa yang akan diterapkan kelak, ^_^

Ada sebuah cerita menarik yang dipaparkan oleh Ibu Eni waktu itu, tentang perjanjian yang dibuat oleh Kartini dan suaminya dalam ikatan pernikahan mereka. Akan tetapi na’asnya, cerita itu seperti dihilangkan begitu saja dari putaran sejarah. Berikut ceritanya,

Jadi Kartini saat menikah dengan suaminya, dia memberikan tiga hal yang pantang untuk dilanggar dalam ikatan pernikahan mereka. Tiga hal itu adalah:

1.    Tidak ada komunikasi dengan bahasa Jawa halus/ karma
2.    Tidak ada tradisi mencium tangan suami ketika hendak apapun dan kemanapun
3.    Tidak ada poligami

Suaminya sepakat. Akan tetapi tidak untuk waktu yang lama, karena beberapa saat setelah itu suaminya melanggar salah satu isi perjanjian tersebut, dan suaminya melakukan poligami dengan menikahi perempuan lain.

Hati Kartini pun remuk redam, hancur lebur, dan dipenuhi dengan amarah yang membuncah. Maka sebagai bentuk atau sikap pemberontakan terhadap suaminya, praktis setelah suaminya melakukan poligami, semangat menulis Kartini menurun, ia jadi tidak menulis serajin dan seintens sebelumnya. Dan satu sikap yang paling memberontak adalah dengan pisah ranjang dengan suaminya, dan Kartini memilih tidur di shofa sampai ia meninggal!

Sungguh pemberontakan yang luar biasa. Akan tetapi cerita tersebut seolah-olah dihilangkan dari poros sejarah, mungkin demi menciptakan imej bahwa Kartini adalah bukan sosok yang tidak berani dan tidak bisa memberontak terhadap hal-hal yang mengungkungnya. Itu salah besar! Itu yang perlu kita catat.

Ah, andai Kartini tidak mati semuda itu; pada usia 25 tahun, maka mungkin saja pemikiran dan gagasannya tentu akan lebih meluas pada berbagai macam hal, terutama tentang Islam.

Satu hal lagi yang dapat kita tarik sebagai sebuah pembelajaran dari seorang Kartini adalah, bagaimana dia berfikir ala Eropa, tapi bertindak ala Indonesia (Think globally, act locally).

Demikian oleh-oleh yang ku dapat dari mengikuti kajian perdana di PSW. Semoga ada manfaatnya ya…

Makasih banget kalo udah mau baca coretan-coretan ini, saran dan kritik yang membangun, silahan disampaikan ya… gratis kok, ^_^


Yogyakarta, 25 April 2013
15:27

Nieza Ayoe

Minggu, 21 April 2013

Latihan Nulis Berita (II), Monggo kritik dan sarannya ya buat pemula :)


HARI KARTINI
KOPRI PMII D.I Yogyakarta: Kami Menolak Sanggul dan Kebaya dalam Perayaan Kartini


Yogyakarta, NU Online
Dalam rangka memperingati hari Kartini, KOPRI (Korp PMII Putri) Daerah Istimewa Yogyakarta, bekerjasama dengan berbagai organisasi dan komunitas Yogyakarta, menggelar acara “Malam untuk Kartini: Membaca Surat-Surat Kartini Dan Melanjutkan Perjuangan Kemerdekaan Perempuan” di depan Gedung Agung, Yogyakarta, Minggu (21/04/13) malam.

Selain KOPRI, acara ini diikuti oleh berbagai individu maupun komunitas peduli perempuan yang ada di kota Yogyakarta, seperti Perempuan Mahardika Yogyakarta, Ikatan Waria Yogyakarta (IWAYO), Sarinah, KAMMI, Ekspresi, Gema Hijabers Community, Ninas Real Madrid Yogyakarta, dan sebagainya.

Menurut ketua umum KOPRI DI Yogyakarta Icha Sulaiman, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk membongkar kebohongan-kebohongan sejarah tentang Kartini yang selama ini telah dibuat oleh para penguasa orde baru.

“Maka kembali menyerukan membaca surat-surat Kartini, melihat kembali dengan kritis apa yang dikehendakinya, dan tentu meneruskan perjuangannya adalah hal yang penting demi melawan mainstream yang telah mengakar selama ini”, tutur Icha, sapaan akrab ketua KOPRI DI Yogyakarta tersebut.   

Acara malam itu memang terlihat berbeda dengan mayoritas acara peringatan hari Kartini selama ini, dimana hampir semua pelaksanaanya adalah dengan mengadakan acara berkebaya, bersanggul, masak-memasak, rias-merias, dan sebagainya. Menurutnya, perayaan semacam itu malah akan semakin mendukung domestika perempuan, yang sejatinya begitu ditentang oleh Kartini dalam surat-suratnya.

“Justru kegiatan semacam itu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam surat-surat Kartini. Jadi, agenda ini memang kami gelar tanpa sanggul, kebaya, masak-memasak ataupun rias-merias ala orde baru, dan kami menentangnya. Melanjutkan perjuangannya, melawan kekerasan seksual dan pemiskinan terhadap perempuan adalah kepentingan kami. Kartini sudah memulai, mari kita lanjutkan perjuangannya”, tandas perempuan yang saat ini sedang menjalankan studi di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Adapun selain pembacaan 21 surat Kartini kepada sahabatnya; Stella oleh perempuan-perempuan dari berbagai komunitas, acara ini juga dimeriahkan oleh sejumlah aktifis laki-laki PMII dengan membacakan orasi dan puisi tentang perempuan.

“Hari Kartini tidak hanya milik kaum perempuan, tapi milik kita semua. Dan dalam konsep agama apapun, sebenarnya sangat menjunjung tinggi perempuan. Sejarah telah membuktikan, bahwa banyak sektor yang telah dipelopori oleh perempuan, seperti pertanian. Maka Kartini merupakan contoh yang patut kita tiru selanjutnya”, papar Imam S Arizal selaku Ketua Umum Cabang PMII DI Yogyakarta dalam orasinya.

Acara berlangsung dengan santai dan ramai. Selain karena lokasi yang tepat berada di kawasan titik nol kilometer sebagai pusat keramaian kota Yogyakarta, seluruh peserta yang hadir begitu antusias membacakan surat-surat Kartini, pun juga dengan para waria-waria yang dengan penuh semangat jiwa peduli perempuan, turut serta membacakan beberapa surat Kartini.

Para peserta juga terlihat begitu menikmati, serta merespon positif acara tersebut. Mila, salah seorang peserta pembaca surat Kartini yang berasal dari komunitas Sarinah, menuturkan bahwa ia sangat mendukung gerakan semacam ini. “Saya menilai kegiatan semacam ini positif. Walaupun tidak memberikan bukti kongkrit, tapi setidaknya ada upaya pelurusan terhadap kegiatan perayaan dan pemaknaan tentang perjuangan Kartini yang telah menjamur dalam masyarakat selama ini. Salah satunya adalah dengan membaca kembali surat-surat Kartini”, papar perempuan yang merupakan mahasiswa Filsafat UGM tersebut.

Para panitia penyelenggara kegiatan ini juga mengharapkan bahwa kegiatan malam itu bukan sebatas ceremonial belaka, dimana terjadi ke-mandeg-an setelah acara selesai dan tidak ada tindak lanjut. “kita akan dan harus tetap memperjuangkan cita-cita Kartini, dan ke depan akan tetap diadakan diskusi sebagai kelanjutan dari kegiatan ini”, tutur salah seorang panitia di penghujung acara.


Kontributor : Dwi Khoirotun Nisa’


Latihan Nulis Berita (I), Monggo kritik dan sarannya ya buat pemula :)


HARLAH KE-53 PMII
PC PMII D.I Yogyakarta Helat Pagelaran Seni dan Budaya Nusantara



Yogyakarta, NU Online
Pagelaran seni dan budaya nusantara yang diadakan oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu (20/04) malam berlangsung cukup ramai. Tampak para aktivis PMII datang secara berduyun-duyun memadati gedung Multi Purpose (MP) UIN Sunan Kalijaga sebagai lokasi acara yang terletak di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.

Dengan mengangkat tema “Menggerakkan Tradisi Menuju Perdamaian NKRI”, acara ini merupakan puncak rangkaian Pekan Sahabat Nasional 2013 yang telah berlangsung sejak 16 April 2013, dalam rangka memperingati hari lahir PMII ke-53.

Acara ini dihelat sebagai salah satu bentuk tanggungjawab mahasiswa dalam rangka mewujudkan perdamaian NKRI sebagai salah satu dari empat pilar Negeri ini yang harus dipertahankan. Jadi, mahasiswa sudah tidak sepatutnya lagi hanya menggelar aksi turun di jalan, tapi juga harus mampu berkontribusi dengan kongkrit demi mewujudkan perdamaian NKRI. Demikian diungkapkan Imam S Arizal selaku ketua umum cabang PMII D.I Yogaykarta dalam sambutannya malam itu.

Karena ke depan, Indonesia tidak hanya akan mendapatkan tantangan dari luar saja, akan tetapi juga dari dalam negeri sendiri. Dan hari ini, bangsa kita tiada terasa telah dijajah oleh ‘orang dalam’ sendiri demi kepentingan sesaat, semisal beberapa kasus kekerasan dan tindakan premanisme yang belakangan kerap menghebohkan kota dengan slogan berhati nyaman ini. Tandas sosok yang merupakan alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.     

Acara malam itu dibuka dengan penampilan kelompok musik patrol yang merupakan musik khas kota Jember Jawa Timur, dengan mendendangkan lagu jaranan dan padhang bulan. Acara ini juga diisi dengan orasi kebangsaan oleh H. Idham Samawi, selaku anggota IKA-PMII Yogyakarta sekaligus mantan Bupati Kabupaten Bantul.

Selain orasi kebangsaan, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan tarian dan musik kelompok mahasiswa dari berbagai daerah, seperti tari Muang Sangkal (Sumenep Madura), tari Briuk Tinjal (Lombok NTB), tari dan kesenian Sumatera Selatan, musik Tongtong (Jember Jawa Timur), Gorong-Gorong Institute, Komunitas Rudal Yogyakarta, dan Orkes Gambus Al-Jamiah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pagelaran tersebut berakhir dengan tertib sekitar pukul 00:00 malam. Para hadirin pada malam itu seakan mendapat suntikan semangat baru, agar lebih mencintai, melestarikan dan mempertahankan budaya nusantara sebagai salah satu aset bangsa.

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’