Sabtu, 20 April 2013

Ini ceritaku tentang peringatan Hari Kartini tahun ini, bagaimana ceritamu?


Lomba Masak yang diikuti El-Mujaddid 2 Tahun Silam

Sabtu (20/04) malam, mendaratlah sebuah es em es dari kota yang telah ku tempati selama 3-4 tahun yang lalu; Malang. Es em es itu dari komandan rayon PMII “Perjuangan” Ibnu Aqil yang menjabat kala itu, yaitu Ismail. Bunyi es em es tersebut mengabarkan bahwa esok hari (Ahad, 21 April 2013) akan diadakan lomba masak tiap angkatan di rayon, dalam rangka memperingati hari Kartini. Karna kondisi yang tak mungkin lagi dapat berpartisipasi dalam lomba masak tahun ini, maka ku respon saja dengan mendo’akan semoga acaranya mendulang kesuksesan, layaknya 2 tahun sebelumnya.

Es em es itu pun berhasil menyeret ingatanku untuk kembali ke masa-masa 2 tahun silam. Begini ini ceritanya…

Lomba masak season I

Tatkala aku masih duduk di bangku kuliah semester VI pada tahun 2011, ketika aku dan teman-teman se-angkatan “El-Mujaddid”, dengan begitu antusias dan kompak mengikuti lomba masak yang diadakan oleh pengurus rayon PMII “Perjuangan Ibnu Aqil” dalam rangka memperingati hari Kartini yang jatuh pada setiap tanggal 21 April di tiap tahunnya.

Ya, acara lomba masak itu pertama kalinya dihelat oleh rayon tercinta kami pada tahun 2011, saat nahkoda kepemimpinan dipegang oleh sahabat se-angkatan kami – sekaligus ketua angkatan kami – yang berperawakan mirip seperti Budi Anduk, yaitu “Salamun”. Dengan menggandeng LSO Gender yang saat itu dipegang oleh Diana Manzila, salah seorang kader di bawah kami yang cukup berbakat dan potensial, maka diadakanlah lomba masak perdana kala itu.

Sederhana saja konsep yang diusung, yakni lomba diikuti oleh masing-masing angkatan yang masih ‘hidup’ dalam keluarga besar rayon PMII “Perjuangan”Ibnu Aqil. Selain dengan tujuan memperingati hari Kartini, sebagai hari yang dianggap hari lahirnya emansipasi wanita Indonesia, kegiatan tersebut juga dimaksudkan agar terciptanya solidaritas dan kekompakan tiap angkatan, demi memupuk kembali semangat juang dalam memperjuangkan nilai-nilai PMII. Kegiatan itu juga dimaksudkan untuk menjalin kembali tali silaturrahmi antar kader pada tiap angkatan, mulai dari yang sering disebut ‘senior’ sampai ‘junior’.

Pun dengan juri masak, tak perlu kami menyewa dan membayar seorang chef terkenal untuk menilai masakan kami. Cukup kami memanfaatkan dua orang senior kami yang dikenal cukup lihai dalam hal masak memasak, yaitu cak Winartono – mantan ketua rayon kami tahun 2005 – juga cak Mas’ud – mantan Lurah Telas (Teater Sebelas) Ibnu Aqil.

Nah, bagaimana dengan peralatan masak yang kami gunakan waktu itu? Padahal kami membutuhkan paling tidak 6 kompor dan peralatan masak lainnya yang otomatis juga berjumlah 6 sesuai dengan jumlah peserta waktu itu. Dan kondisi rayon kami saat itu hanya memiliki satu buah kompor gas yang masih berfungsi. Maka kami pun tak kehilangan akal, dengan meminjam peralatan sana sini, maka kami berhasil mendapatakan empat kompor pinjaman – kalau tidak salah ingat – yang akan kami gunakan pada acara tersebut. Hanya empat? Iya. Lalu bagaimana dengan dua peserta yang lainnya? Nah, akhirnya mau tidak mau 4 kompor itu kami gunakan secara bergantian.

Tahun 2011, lomba masak itu memang diikuti oleh 6 peseta, yakni angkatan Sangkakala (2005), Zulfikar (2006), El-Fikrah (2007), El-Mujaddid (2008), Pandawa (2009), dan adik terbaru kami yang baru lahir, Sapu Jagad (2010).  Rayon kami memang memiliki sedikit keunikan daripada rayon lain, yakni nama-nama yang telah ‘dikawinkan’ kepada anggotanya ketika baru pertama kali masuk PMII melalui pintu Mapaba.

Layaknya sebuah nama yang diberikan oleh orang tua ketika baru saja seorang bayi memecahkan tangisnya di dunia, sebagai gambaran do’a dan harapan untuk anaknya ke depan, maka tak ada bedanya dengan hal itu. Nama angkatan yang disandingkan juga merupakan gambaran do’a dan harapan, agar kami dapat menjadi pelopor dan pejuang yang memiliki sikap seperti makna dan filosofi nama-nama angkatan tersebut. Sebut saja El-Mujaddid yang memiliki makna “sang pembaharu”, maka harapan yang ditancapkan kepada kami adalah agar kami benar-benar dapat menjadi sang pembaharu dalam hal apapun, terlebih dalam hal memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung dalam PMII. Pun demikian halnya dengan angkatan-angkatan lain yang tentunya memiliki makna positif. Realitanya, apakah kami – El-Mujaddid – benar-benar telah menjadi sang pembaharu? Maka jawabannya akan diserahkan kepada masing-masing kepala, yang tentunya akan menghasilkan penilaian yang sangat beragam.

Memang terkadang hal itu – adanya nama tiap angkatan – seolah menjadi ‘sekat’ dan terkesan mengkotak-kotakkan dari keluarga besar Ibnu Aqil kami. Bahkan tak jarang hal itu juga kerap memunculkan rasa egoisme dan persaingan tinggi pada masing-masing angkatan untuk menjadi yang terbaik. Namun, hal itu juga tak selamanya bermakna negatif. Toh sejak dalam alam kandungan pun kita telah diajari untuk bersaing agar menjadi yang terbaik, dalam hal positif tentunya. Dan diakui atau tidak, hal tersebut juga memberikan dampak positif bagi keluarga besar Ibnu Aqil kami, yang kerap mendapat label sebagai rayon terbaik, terkompak, dan ter-ter lainnya. Bukan berarti sombong, akan tetapi memang begitulah realita yang ada.

Lomba masak perdana itu menggunakan bahan dasar jamur, yang kami beli dari salah seorang senior kami yang berbisnis jamur kala itu. Dengan menggandeng “Olid”, salah seorang chef putri andalan kami – angkatan El-Mujaddid, bersatu padu dan bersingsingkan lengan bajulah kami meramu masakan yang akan kami buat, yang kalau tidak salah bernama “steak jamur”. Sebuah masakan dengan perpaduan antara jamur, daging ayam, dan bumbu-bumbu rempah lainnya tentu saja. Setelah beberapa menit berlalu, maka selesailah masakan kami.

Setelah semua peserta menyelesaikan seluruh masakannya, maka dimulailah penilaian pada hasil masakan kami, setelah sebelumnya kami juga diminta untuk mempresentasikan proses dan filosofi nama masakan kami secara sederhana.

Setelah penilaian selesai, maka diperolehlah keputusan bahwa angkatan “El-Mujaddid” sebagai juara I. Memang bukanlah kepingan emas yang kami dapatkan, bukan pula perak, tembaga, uang, medali atau piala yang kami dapatkan untuk mengganti hasil jerih payah kami. Hanya beberapa “renteng” jajanan ringan lah yang diberikan kepada juara. Namun sekali lagi ku katakan bahwa hal itu tak menjadi masalah yang besar bagi kami. Kami tetaplah merasa puas dan senang akan hal itu, karna kepuasan bathin lantaran kekompakan persaudaraan kami lah yang dapat mengalahkan kepuasan materi.

Setelah itu, kami pun menggelar makan bersama dari masakan yang telah dihasilkan oleh masing-masing angkatan. Dengan beralaskan kertas minyak yang disusun berjajar dan memanjang, layaknya sebuah barisan tentara, dituangkanlah nasi dan lauk diatasnya. Tak perlu menunggu beberapa jam untuk menjadikan makanan itu ludes, karena perut kami yang telah keroncongan dan berdangdutan ria memainkan alat musiknya, telah membuat tangan kami semua bergerak dengan cepat meraup nasi dan menjejalkannya ke dalam mulut kami. Maka tak ayal, dalam beberapa menit saja makanan itu telah ludes dan telah berpindah ke dalam perut kami masing-masing.

Lomba masak season ke-II

Seakan menjadi sebuah agenda wajib layaknya Mapaba dan PKD, maka pada kepengurusan berikutnya juga diadakan kembali agenda lomba masak tiap angkatan. Akan tetapi kala itu, lomba diadakan tepat setelah satu hari ‘pembaptisan’ para wisudawan-wisudawati bulan Mei tahun 2012.

Tak jauh berbeda dengan konsep yang diusung pada lomba masak perdana dulu, baik peserta maupun juri masih tetap sama, selain bahan dasarnya yang kala itu menggunakan “tempe”. Juga, kalau pada tahun 2011 sebelumnya yang masak adalah para kader putri, maka kali ini yang berhak memasak adalah para kader putra. Oh ada satu lagi yang membedakan, yakni kehadiran adik terbaru kami angkatan “El-Fatih (2011)” yang menjadi peserta baru.

Dengan menggandeng salah satu chef putra angkatan kami – El-Mujaddid – yang memiliki nama panggilan sama persis dengan bahan dasar masakan kala itu, yakni “tempe”, kembali berjuanglah kami menggunakan alat-alat masak, demi mendapatkan kembali gelar “juara I” yang berhasil kami sandang satu tahun yang lalu. Resep yang kami gunakan waktu itu adalah membuat “bothok” tempe, yaitu perpaduan antara tempe yang dimasak dengan parutan kelapa, ikan ‘pindang’ dan bumbu rempah-rempah lainnya.

Beberapa menit telah berlalu, dan tibalah saat penjurian hasil masakan kami. Betapa senangnya kami tatkala mengetahui hasil bahwa masakan kami mendapatkan nilai tertinggi untuk kedua kalinya.

Dan seperti ku katakan sebelumnya, bahwa memang tak ada telalu banyak perbedaan dalam lomba masak yang dihelat waktu itu, dengan lomba masak tahun sebelumnya. Hadiah dan tradisi makan bersama pun masih sama dan tetap seperti sebelumnya. 

Ah, aku merindukan masa-masa itu dan membuatku ingin menyapa kalian – El-Mujaddid – bagaimana lomba masak tahun ini? Apa bahan dasarnya? Siapa saja yang masih bisa ikut lomba dari angkatan kita? Karena banyak dari angkatan kita yang telah ‘terusir’ dari kampus dan kota Malang. Apakah El-Mujaddid tetap menjadi juara bertahan untuk ketiga kalinya? Bagaimana ceritanya? Apakah ada hal-hal yang baru, selain peserta lomba dari angkatan 2012 yang tak ku tahu namanya itu? Hehe…

Mari kita ngopi atau nge-teh sejenak untuk berbagi cerita tentang itu Sahabat, mengusung kembali tema Mapaba kita dulu “secangkir the bersama kita”



Jogja, 21 April 2013 (10:41)

Nieza Ayoe

Jumat, 19 April 2013

Mencoba Menganalisa Bahasa dan Nama-nama Alay



Siang ini ku rasakan kepalaku berdenyut-denyut sedikit lebih keras, mungkin lantaran terlalu lama menghabiskan waktu di depan laptop, ditambah kurang mengistirahatkan kedua mataku ini. Tugas kuliah yang menumpuk dan cukup bikin pusing, ku cuekin sejenak. Demi sedikit memberikan rasa rileks pada mata, juga badanku. 

Iseng-iseng saja, sembari menunggu waktu shalat jum'atan selesai, ku mengobrol ringan dengan kedua temenku di kost. Obrolan kita beragam, salah satunya mengenai "nama-nama dan bahasa-bahasa alay" yang sedang marak digunakan mayoritas anak-anak muda jaman sekarang. Baik di Facebook, Twitter, SMS, dan media sosial lainnya. Tapi di dunia nyata, sepertinya jarang terjadi. Lagian juga ribet amat ngomong bahasa alay.

Kesimpulan obrolan kami saat itu, bahwa nama memang menunjukkan karakter seseorang. Penggunanya rata-rata adalah anak-anak yang masih pada duduk di bangku sekolah. Dan setiap kita, diakui atau tidak, setidaknya pernah juga melewati masa-masa itu; masa-masa menggunakan bahasa alay. Terutama ketika masih duduk di bangku sekolah. Iya kan? Hayo ngaku... :P

Tapi tenang saja, menurut pengamatan dan pengalaman kami bertiga yang kala itu, masa-masa itu akan surut, hilang, terbang, terhempas - dan bahasa lainnya yang menunjukkan bahwa ia sudah tidak ada - dengan sendirinya. Ya, dengan sendirinya itu akan pergi kok, tapi ya mungkin bertahap.

Nah, hasil pantauan terhadapa nama-nama yang digunakan oleh Facebooker adalah sebagai berikut:

1. Nama asli
2. Nama singkatan 
3. Nama samaran
4. Nama – baik asli, singkatan maupun samaran – dengan tambahan kata-kata motivasi
5. Nama – baik asli, singkatan maupun samaran – dengan mencantumkan cita-citanya atau obsesinya
6. Nama – baik asli, singkatan maupun samaran – dengan nama pacar atau orang yang disayanginya
7. Nama – baik asli, singkatan maupun samaran – dengan gambaran situasi hatinya
8. Nama – baik asli, singkatan maupun samaran – dengan jarak spasi yang benar dan sesuai EYD
9. Nama – baik asli, singkatan maupun samara – yang tanpa ada spasi satupun dan otomatis tidak sesuai EYD
10. Nama – baik asli, singkatan maupun samaran – yang susunan hurufnya bergantian antara huruf kapital dan kecil
11. Nama – baik asli, singkatan maupun samaran – dengan mencantumkan nama orang tuanya
12. Perpaduan antara salah satu di atas, seperti nama asli dengan nama samaran, nama samaran dengan kata-kata semangat, nama samara dengan nama pacar atau orang yang disayanginya, dsb
13. Nama yang tak bisa dibaca oleh siapapun kecuali si empunya namanya sendiri

Ada yang mau menambahkan? Silahkan... :D

Jogja, 19 April 2013

Minggu, 07 April 2013

Surau itu…



Dulu, semasa ku masih duduk di bangku MI, surau itu cukup ramai, dan menjadi surau yang paling ramai se-Dukuhan. Ketika malam sehabis isya’, ku bersama teman-teman sebayaku, yang waktu itu masih banyak personel, dengan semangat yang tinggi berbondong-bondong datang ke surau itu. Demi agar bisa membaca kitab Al-Qur’an. Lancar atau tidak bacaan kami, kami tetap rutin mengeja satu per satu, kata per kata, kalimat per kalimat dari rangkaian huruf Al-Qur’an.

Guru ngaji kami yang tak lain adalah bu dhe dan ibuku sendiri, dengan begitu sabar menuntun kami agar bacaan kami menjadi lancar. Jikalau bu dhe ku yang mengajar, maka kami akan sangat senang dan tenang, lantaran kesabaran dan ketelatenan beliau dalam menghadapi kami. Jika kesempatan ibuku yang mengajar kami, maka kami akan merasakan sedikit ketakutan, lantaran karakter ibuku yang memang ku akui sedikit galak dan tegas dalam mengajar, namun tetap telaten. Dan akhirnya sifat itu –galak dan tegas- kini diwariskannya kepadaku.

Masih ku ingat beberapa teman ngajiku kala itu, ada mbak Sri, mbak Utami, Umi, Lia, Misbah, Edi, Yudi, dsb. Kini rata-rata dari mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak, walaupun belum semua.

Ketika malam Jum’at, sejak kecil kami sudah dididik untuk mengikuti kegiatan tahlilan dan yasinan di surau itu. Kami menurut saja. Apalagi setiap kali selesai acara, selalu ada sajian-sajian yang diberikan dari warga sekitar. Terkadang berupa ambeng atau tumpeng, yaitu semacam nasi yang telah disajikan sedemikian rupa dalam sebuah nampan besi ataupun kayu. Terkadang juga berupa kue-kue tradisional semisal onde-onde, nagasari, pisang rebus, ataupun berupa snack-snack ringan dalam kemasan.

Setelah tahlilan selesai, tak segan-segan kami segera mengepung sajian itu beramai-ramai, dan kami pun memakannya secara bersama-sama, sembari menunggu adzan isya’ berkumandang.

Itu kegiatan yang kami ikuti setiap malam jum’at. Nah, ketika hari jum’at tiba, pagi sekitar pukul 8 atau 9, aku dan teman-teman berbondong-bondong untuk berkumpul di surau itu lagi, dengan masing-masing kepala membawa satu buah kain atau baju bekas yang akan kami gunakan sebagai kain pel. Ya, hari jum’at kami agendakan untuk mengepel surau kami tercinta. Tak ada instruksi dari siapapun, entah dari guru ngaji kami, imam sholat di surau itu, atau ketua RT, apalagi kepala desa. Itu semua inisiatif kami sendiri, sebagai ungkapan rasa sayang kami terhadap surau itu.

Waktu itu, surau itu belum memiliki kamar mandi dan tempat berwudlu. Kami mengambil air untuk me-ngepel, dengan menimba air dari rumah salah satu teman kami; Misbah, yang tak lain adalah putra dari imam di surau itu. Ya, waktu itu sumur masih sangat banyak di desa kami. Tak ada kesulitan yang kami rasakan, yang ada justru malah senang.

Setelah menimba air dari sumur, kami pun mengepel surau itu. Dengan menggunakan senjata kain bekas di tangan masing-masing, kami pun berbasah-basahan ria dan berlarian kesana kemari, sambil mendorong kain pel kami dari bagian imam-an sampai teras surau. Tak jarang lutut kami pun menjadi lecet-lecet, lantaran tergores keramik surau yang sudah retak-retak. Tapi hal itu tak sedikitpun mengurangi semangat kami. Setelah selesai, maka kami segera pulang ke rumah kami masing-masing untuk bebersih diri.

Berbeda lagi tradisi ketika bulan Ramadhan tiba. Dengan berbaris di bagian paling belakang, kami dengan penuh semangatnya, tak pernah absen mengikuti shalat tarawih dan tadarus di surau itu, dari rakaat pertama, sampai rakaat ke-20. Akan tetapi, itu terjadi ketika hari-hari awal dan akhir saja. Ketika pertengahan, kami sering bermalas-malasan. Jadi, kami mengikuti shalat tarawih dengan melobanginya satu persatu, rakaat pertama ikut, rakaat kedua tidak, ketiga ikut, keempat tidak, dan seterusnya. Sering kami mendapat marah dari orang-orang tua, ketika tak sengaja kami ramai. Tapi kami tak menggubrisnya. Yah, namanya juga anak-anak, wajar saja kan? Yang penting mereka sudah mau ikut saja, itu sudah cukup baik karena akan menjadi bekal dalam prosesnya menapaki kedewasaannya kelak. J

Ketika siang Ramadhan, karena sekolah kami libur -berbeda dengan sekolah jaman sekarang yang liburnya hanya separo dari bulan ramadhan, bahkan ada yang tak ada liburnya sama sekali-, maka kami memanfaatkan waktu siang itu untuk bermain karet atau dakon di surau itu. Ya, permainan tradisional yang nampaknya sekarang sudah tidak ada lagi, alias sudah musnah. Jelas saja, anak-anak sekarang mainannya sudah sangat keren, game dari HP, PS, ataupun i-pad , tab, dan sejenisnya. Berbeda dengan zaman kami kala itu. Maka hiburan kami hanyalah dengan bermain karet, dakon, terkadang juga petak umpet, dsb. Sederhana memang, akan tetapi kami sangat menikmatinya. Dan, ku merasa bersyukur karna masih menangi masa-masa seperti itu. karena dari permainan-permainan semacam itu, secara tak langsung dapat memberikan bekal jiwa sosialis kepada kami. Sebuah pelajaran bagaimana kami dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman-teman sebaya, yang nantinya sedikit banyak akan memperngaruhi dalam proses bersosialisasi dan berkomunikasi dengan masyarakat ketika dewasa. Berbeda dengan permainan macam sekarang, yang menurutku lebih banyak memberikan dampak negatif kepada anak daripada dampak positif.

Permainan itu kami laksanakan sampai adzan dzuhur berkumandang. Ketika sudah masuk waktu shalat dzuhur, maka kami segera pulang ke rumah masing-masing untuk bebersih diri dan mengikuti shalat dzuhur berjama’ah di surau itu, karna setelah dzuhur, kami harus mengikuti kajian kitab dan program khataman Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. Kitab yang kami kaji waktu itu adalah kitab safinatun naja.

Ketika sore tiba, kami pun kerap bermain tenis atau bulu tangkis di halaman surau itu. Jika agenda mengaji di TPQ sedang llibur tentunya.

Malam harinya, kami secara berurutan, bergantian dan tertib mengikuti tadarus di surau itu. Dan ketika malam hari raya tiba, maka kami pun akan begadang di surau itu dengan tak henti-hentinya mengumandangkan takbir melalui microphone yang terpancar dari surau itu. Perayaan malam hari raya kami pun menjadi semakin meriah, lantaran tak sedikit dari kami yang mengumandangkan takbir sembari klotek’an, memukul-mukul kendang atau potongan bambu sederhana yang kerap digunakan oleh para kaum bapak dalam ronda malamnya, sebagai alat memanggil para warga ketika terjadi sebuah peristiwa janggal seperti kemalingan.

Itu dulu. Sekarang?

Kondisinya cukup memprihatinkan, karena semua itu sudah tidak ada. Bahkan anak-anak kecil yang mengaji di surau itu pun hanya tinggal satu-dua saja yang masih bertahan. Entah apa yang mereka kerjakan, dan apa yang ditanamkan oleh orang tua zaman sekarang. Dan entah, kondisi seperti itu –surau sepi- hanya terjadi di surau dekat tempat tinggalku, atau terjadi pada hampir seluruh surau masa kini. Entah..

Semoga kaum muda sekarang, masih ada yang tergerak hatinya untuk menghidupkan surau kembali..



Bojonegoro, 08 April 2013

Ah, ‘kita’ masih saja seperti dulu…



“kalo lagi boncengin kamu kaya gini, aku jadi inget yang dulu-dulu yu…”

Itulah percakapan awal yang muncul dari mulut, sekaligus mungkin hati dia. Ku biasa menyapanya dengan ‘kang’, dan dia pun memanggil aku dengan ‘yu’. Panggilan akrab kami sejak beberapa tahun lalu.

Ku hanya tertawa saja tatkala mendengar dia berucap itu, dan ku imbangi dia dengan berkelakar tak jelas tentang kami di masa lalu. Entah apa saja yang ku kelakarkan, aku sudah tak mengingatnya.

Gerimis hujan yang mengguyur kala maghrib itu, tak terasa semakin menyeret kami untuk bernostalgila dengan masa lalu kami. Masa lalu yang cukup menyakitkan sebenarnya, kalo mesti diungkit-ungkit kembali.

Sebelumnya, telah ku relakan saja jaketku untuk ku serahkan kepadanya, agar dia tak kedinginan. Dan ku relakan saja tubuhku diserang angin malam dan dingin hujan kala itu. Demi dia. Tapi kemudian rasa dingin itu hilang seketika, tatkala ku melihat dia mengenakan jaketku, betapa senangnya aku. Ah, ternyata aku masih begitu perhatian dan masih saja selalu mau ‘ngalah’ demi dia.

Jalanan penuh lubang sekaligus becek dengan genangan air tumpahan hujan berwarna kecoklat-coklatan, seakan menjadi saksi percakapan kami kala senja mulai merangkak menuju malam itu. Cairan kecoklat-coklatan dari jalanan itupun meloncat-loncat ke sandal dan celana yang kami kenakan. Membuatnya menjadi kotor. Tak hanya becek sebenarnya jalanan desa yang harus kami lalui, tapi cukup licin dan berlubang juga, sehingga membuatku tergerak untuk menancapkan tangan kiriku ke pundaknya agar tak terjatuh. Hanya tangan kiri saja, karna tangan kananku waktu itu kugunakan untuk menjaga tubuh kami berdua agar tak basah kuyup dengan payung biru berlukiskan bunga-bunga.

Berboncengan berdua di atas kuda ‘smash’ dan berpayungan berdua di tengah gerimis hujan tatkala senja sore beranjak malam. Romantis sekali bukan? ^_^

Ah, sepertinya hal itu –memegang pundaknya agar tak terjatuh- kulakukan, hanya alibiku saja untuk semakin merasakan kedekatan dengannya. Walaupun itu bukan pertama kali ku lakukan tatkala dia memboncengku.

Gara-gara peristiwa itu, rasa aneh antara senang bercampur nyaman berdesir kembali ke relung hatiku, dan mungkin juga dia. Wajar, karna bagaimanapun dia pernah menjadi orang yang ku sayang sekaligus ku benci semasa sekolah dulu. Walaupun terkadang rasa dendam lantaran sakit hati masih suka mencari posisi terdepan, agar segera ku lemparkan kepadanya. Rasa dendam yang sampai saat ini belum juga hilang sepenuhnya, lantaran dari dulu dia sampai sekarang dia tak pernah berhenti mempermainkan hatiku.

Tapi ku tetap menghargai dia sebagai sahabatku. Ku masih baik hati, dan seakan memang tak bisa menyayangi orang lain seperti rasa sayangku ke dia. Ku katakan dengan tegas dan lantang, bahwa aku masih begitu menyayangi dia. Tapi, rasa sayangku ke dia ku arahkan kepada rasa sayang antar sahabat, karna ku fikir rasa sayang antar sahabat itu lebih tulus dan awet daripada dengan pacar, walaupun tidak sepenuhnya benar.

Dan akupun mengabadikannya ke dalam nama mainanku, “nieza”. Ya, nama itu memang sengaja ku susun sebagai perpaduan antara namaku dengan namanya. Dan, tak ada yang tau memang tentang itu, kecuali aku sendiri, dan Tuhan tentunya. Oh aku lupa, ternyata dia juga sudah ku beritahu perihal itu. Belum lama, belum ada setahun yang lalu ku memberitahukannya akan hal itu.

Sampai saat ini dan sampai kapanpun, sepertinya ku akan tetap memakai nama itu. Tak ada maksud lain sebenarnya, hanya aku begitu suka saja pada nama itu. nama yang cukup manis dan bersejarah. Dan biar ku merasa tetap selalu dekat dengan dia.

Sebenarnya aku tak boleh begini terus menerus, karna hal ini hanya akan semakin memperkeruh keadaan batinku saja. Dan hal itu hanya akan membuatku selalu, selalu, dan selalu serta semakin, semakin dan semakin mengingat kenangan kami.

Terkadang juga muncul kekhawatiran, bahwa hal itu akan membuatku nantinya tak bisa membuatku mencintai suamiku sepenuhnya. Walaupun tak ada yang tau memang, siapa suamiku dan istrinya kelak. Bisa saja dia yang akan menjadi suamiku, dan aku menjadi istrinya kelak. Toh saat ini kami masih sama-sama ‘galau’ perihal pasangan kami masing-masing. Tapi ku rasa itu sebuah kemustahilan.

Ah, kita masih saja sama-sama belum dewasa ya kang. Tapi semoga penyakit kita ini nantinya akan sembuh dengan sendirinya. Atau malah semakin parah?

Tapi ku ingin mengatakan sesuatu padamu pagi ini, “ku ingin boncengan lagi bersamamu kang…” *_*



Bojonegoro, 07 April 2013

Kamis, 04 April 2013

Security Berkuping Satu



Dengan mengenakan celana batik dan jaket berwarna putih blesteran biru muda, ku lihat Shofi mondar-mandir di depan kamarnya. Entah apa yang sedang dikerjakannya, sepertinya memang dia sedang kebingungan.

“kamu kenapa? Sakit?”

Tanyaku kepadanya ketika baru saja ku injakkan kaki di kost. Pertanyaan itu terlontar secara spontan saja, lantaran melihat kostumnya yang mengenakan jaket rada tebal di tubuhnya, pemandangan yang biasanya terjadi pada orang yang sedang sakit.

nggak kok, cuma bingung aja

Jawabnya, sembari masuk ke kamar sebelahnya yang bernomor 07, untuk nimbrung dengan anak-anak kost lain yang sedang asyik nonton televisi.

Sejurus kemudian, dia menceritakan bahwa dia jadi geli sendiri, karena seekor kucing telah tidur dengan nyenyak di kasurnya ketika dia sedang keluar.

Ya, sudah sekitar satu bulan ini, ku perhatikan memang ada security baru di kost yang baru ku tempati belum genap setahun ini. Security itu tak pernah lelah, karena setiap waktu –terutama malam, dia selalu berjalan mondar-mandir di lorong kost, entah berapa puluh kali. Dia adalah seekor kucing jantan liar berukuran sedang, berbulu putih, dengan blasteran orange keemasan sedikit pada badannya. Tidak terlalu kotor sebenarnya, tapi memang ada sedikit keganjilan pada tubuhnya yang membuat orang sedikit merinding, yaitu dia hanya memiliki satu kuping. Kucing yang berbau mistis, begitulah kesanku ketika pertama kali melihatnya

Masih ku ingat juga kejadian beberapa hari lalu. Pagi hari, ketika sedang asyik memelototi layar laptop, ku dengar suara kresek-kresek, suara yang timbul dari sebuah plastik hitam yang sedang berusaha dibuka untuk dimasuki sesuatu ke dalamnya, atau sesuatu sedang berusaha dikeluarkan darinya.

Dan benar saja, ketika ku longokkan kepalaku keluar melalui jendela, ku dapati si kuping satu itu sedang begitu bersemangat meng-orak-arik sampah di depan kamarku. Dia berusaha mengais sisa-sisa tulang ikan lele yang menjadi santapanku semalam. Ah, kasian sekali. Ya sudah, lalu ku biarkan saja dia menyelesaikan sarapannya pagi itu dengan nikmat. Walaupun meninggalkan sampah yang bercecer-cecer tak keruan di depan kamarku, sehingga membuat lantai kost yang semula berwarna putih, kemudian menjadi putih dengan bercak-bercak warna coklat yang berasal dari kaisan sampah hasil kreasi si kuping satu itu.

Ku masukkan lagi kepala dan badanku ke kamarku, demi meneruskan pekerjaanku pagi itu. beberapa menit kemudian, ku longokkan kembali kepalaku melalui jendela, dan tak ku dapati si kuping satu itu berada di situ. Berarti dia sudah meneruskan kembali ‘jihad’nya mencari makanan, pikirku. Segera ku ambil sapu dan kain pel, untuk membersihkan sampah uraian si kuping satu itu.

“aku mau beli sprai baru ah, risih aku”

Terdengar suara Shofi memberikan kesimpulan akhir dari proses panjang curhatnya, yang sontak membuyarkan lamunanku terhadap si kucing itu. Kemudian, ku tawarkan diriku untuk menemaninya membeli sprai baru.

Detik itu juga ku lihat shofi mengemasi sprai yang melekat pada kasur busa tipisnya itu. dan pada malam itu juga, dia memacu kuda mesinnya menuju sebuah supermarket terdekat dari tempat kami, untuk mencari satu barang; sprai baru.

Ku temani saja dia, dan setelah beberapa menit berkeliling, akhirnya kami berhasil menemukan sebuah sprai berwarna biru dan bermotif Doraemon, di sebuah rumah sederhana di gang sempit sudut kota.


Beberapa hari berikutnya

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” terdengar sebuah lengkingan yang begitu mengagetkan di malam itu.

Aku dan teman-teman yang baru saja merebahkan tangan setelah makan, segera berjalan menuju sumber jeritan tersebut. Ternyata itu hasil jeritan Riris –salah satu penghuni kos, tatkala melihat seekor kucing yang dengan santainya dan tanpa rasa berdosa sama sekali, tidur di atas kasurnya, dengan posisi telentang.

Seketika tawaku dan teman-teman pecah melihat kejadian itu, sehingga membuat situasi kost malam itu menjadi sedikit gaduh. Bercampur aduk antara tawa penghuni kost, juga ratapan sedih Riris lantaran rasa gelinya yang belum hilang itu.

Belum reda juga emosi dan ratapannya, kemudian diambilnya handphone pada saku celananya. Setelah mencari kontak yang ditujunya, segera ia arahkan handphone-nya itu ke telinga. Dan, dimulailah percakapan dengan ‘ojob’nya itu..

“aduh yankmasa kamarku habis dimasukin kucing coba, mana dia tidur di kasurku lagi. Udah gitu kucingnya njijik’i banget e, sukanya ngorek-ngorek sampah, eh barusan malah tidur di kasurku”

Terdengar rengekan panjang dan manjanya itu kepada ojobnya. Mendengar itu, ku arahkan mataku kepada teman-teman di sekelilingku. Alamaaak Dan dengan menggunakan bahasa isyarat, mata kami semua pun saling berpandangan heran dan ingin rasanya tepok jidad mendengar rengekan yang sedikit alay itu.

Terdengar lagi perckapannya,

“iya nggak tautadi aku lupa nutup pintu kamar soale

Tebakanku, mungkin saja ojobnya menanyakan kronologis kenapa kok kucingnya bisa bertengger di kasurnya itu.

Kembali ku tarik kedua mataku untuk ku tabrakkan secara paksa, dengan mata teman-temanku. Dan kami pun kembali berbicara dengan bahasa isyarat mata. Sambil dalam hati berteriak, Gusti. alay sekali ni anak.

Setelah itu, ku lihat dia menutup edisi curhatannya dengan sang ojob via telpon, dengan masih memanyunkan bibirnya lantaran rasa kesalnya yang belum juga hilang, walaupun telah menelpon sang pujaan hati.

“sudah nggak papa, orang cuma kucing doang to. Segera ambil sprai-mu itu, kemudian rendam dan cuci besok kalo emang masih geli. Biar segera bersih”

Dengan sedikit rada jengkel melihat tingkahnya yang bagiku sedikit alay, ku katakan hal itu kepadanya. Mencoba memberi saran sebijak mungkin. Bagaimanapun, naluriku masih bergerak meskipun hanya kepada seekor kucing liar berkuping satu itu. Dan masih cukup terngiang juga di telingaku, salah satu kandungan NDP (Nilai Dasar Pergerakan) salah satu oraganisasi yang telah ku geluti cukup lama, yang mengajarakan kita untuk menjaga hablun minal ‘alam (menjaga tali kasih sayang terhadap alam). Hewan termasuk bagian alam bukan?

Toh kejadian itu juga bukan kesalahan hewan seutuhnya. Manusia juga turut serta menyumbangkan kesalahannya dalam hal ini. Kembali ku katakan kepadanya:

“makanya, kalo keluar tu pintu mbok yo ditutup, kalo emang gak mau ditiduri kucing lagi”

“tadi cepet-cepetan e mbak Ira kilahnya.

“ya sudah, berarti memang tuh kucing niat menjelajahi semua kamar. Kamarku udah, shofi udah, Siti juga udah. Nah, sekarang giliran kamu

Sembari tertawa ku katakan hal itu kepadanya.

“lagian njijik’i banget e mbak kucingnya itu, udah hobinya mengorek sampah, trus suka masukin kamarnya orang sembarangan lagi”

“ya ampun Ris Kok segitunya sih kamu marahnya. Mana dia paham juga masalah etika dan moral, namanya aja kucing. Jalan satu-satunya buat dia mendapatkan makanan kan dengan membongkar sampah to? Ya kalo emang gak pengen dia membongkar seluruh isi sampah demi untuk mengisi perutnya, mari kita semua patungan, dan berikan dia makanan rutin setiap hari. Trus juga kita buatin rumah dan sediain kasur buat dia, biar dia gak masuk kamar orang sembarangan”

idih, ogah banget lah mbak. Orang buat makan sehari-hari aja ngepas. Gimana mau ngingoni kucing”

“nah lho, ya sudah kalo gitu jangan salahkan kucing itu. kalo emang kita gak bisa berikan dia makanan rutin, minimal sisain lah sedikit buat dia ketika kita makan, dan kita juga kudu bisa mengatur emosi kita, jangan asal marah-marah doank, tapi tanpa memperbaiki keadaan. Bagaimanapun dia juga berhak hidup lho Ris, dan salah satu jalannya buat bertahan hidup ya makan. Sekarang aku Tanya, dia mau dapat makan dari mana coba kalo gak ngorek-ngorek isi sampah? Gak ada kan?”

“iya juga sih mbak

Ku perhatikan dia terlihat sedikit tertunduk dan sedikit lebih tenang sambil mungkin merenungi akan kesalahannya dari kejadian malam itu.


***


Jogja, 04 April 2013

Rabu, 03 April 2013

Cak Nun: Agama Masyarakat Itu Sebenarnya Harus Telo, Bukan Gethuk atau Kripik



Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi bekas kerajaan Mataram (baca: Yogyakarta) ini tak sedikitpun menghalangi semangat para Cak Nunian (pengagum Cak Nun dan Kiai Kanjeng), untuk sekedar memacu kuda mesinnya menuju Masjid Jami’ At-Taqwa Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, demi mendapatkan kehangatan bathiniyyah lantaran petuah-petuah Cak Nun dan juga tembang-tembang yang disenandungkan oleh Kiai Kanjeng yang memang memiliki sengatan listrik yang bisa membuat jiwa orang kesetrum (kena sengatan listrik).
Acara ini dihelat oleh Pengurus Ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa, dengan mengangkat tema “Ashabul Kahfi Ada di Masjid Jami’ At-Taqwa: Istiqamah di Sahara Kehidupan Modern”. Jum’at, 29 Maret 2013, sekitar pukul 20.00 WIB, acara pun dibuka oleh MC yang membawakan acara secara semi formal. Setelah sambutan oleh ketua ta’mir masjid Jami’ At-Taqwa; Prof. Dr. Edi, juga oleh Bupati Sleman, acara dimeriahkan oleh penampilan Kiai Kanjeng dengan membawakan tembang perdana “Hasbunallah wa ni’mal wakil”. Para penonton yang terdiri dari segala macam usia -mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, juga dari berbagai kalangan –akademisi, mahasiswa, petani, pejabat, dsb- yang memadati halaman luas masjid Jami’ At-Taqwa ini pun terlihat begitu menikmati dan menghayati alunan musik yang dibawakan Kia Kanjeng.
Setelah beberapa saat, tibalah sang Maestro yang telah ditunggu-tunggu, “Cak Nun”. Dengan mengenakan pakaian serba putih dari ujung atas sampai ujung bawah, Cak Nun mulai menyampaikan pesan-pesannya. Ia memulai dengan menyampaikan sebuah ilusrasi yang cukup menarik, tentang agama Islam dan golongan-golongan yang ada di dalamnya.
Cak Nun mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang terkadang begitu fanatik terhadap golongan/aliran yang dianutnya, seperti NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb. Sehingga dari kefanatikan itu memunculkan tindak kekerasan yang kerap terjadi sesama muslim. Kemudian Cak Nun pun mengilustrasikan agama Islam laksana Telo (sejenis umbi-umbian) yang bisa menghasilkan berbagai aneka menu, seperti Gethuk, Kripik, dsb. Nah, Telo diibaratkan sebagai agama Islam murni, dan Gethuk, Kripik diibaratkan aliran-aliran yang muncul dalam Islam. Nah, kebanyakan orang memang menganggap bahwa NU, Muhammadiyah, Syi’ah, dsb itu sebagai agama mereka, padahal sebenarnya semua sama-sama Islam. Itulah pentingnya menjunjung tinggi pluralisme.
Maka Cak Nun pun melontarkan pertanyaan kepada para pengunjung yang berdekatan dengan panggung, dengan berbahasa Jawa, “la seng agama iku lak seng Telone to bu’ nggeh, ora kok Gethuk lan Kripik iku? La wong saiki iki, seng sering nganggep agamane iku Gethuk lan Kripik iku, padahal asline kan Telo” (La yang agama itu kan yang Telo-nya kan bu’ ya, bukan kok Gethuk dan Kripik? La orang sekarang itu sering menganggap agamanya itu Gethuk dan Kripik itu, padahal aslinya kan Telo). Sontak para hadirin pun tertawa mendengar ilustrasi Cak Nun yang terkesan aneh, lucu namun sarat akan makna tersebut.
Tembang-tembang pun mengalir dari tangan-tangan para anggota Kiai Kanjeng, seperti syi’ir tanpa wathon, gelandangan, dsb, mengiringi jalannya pengajian yang selesai sekitar pukul 00:00 malam tersebut.
  
20 pesan selanjutnya

Selain menyampaikan tentang Telo, dkk tersebut, dengan kemasan bahasa Indonesia dan Jawa, dan dengan ciri khasnya yang terkesan slengek’an dan seperti ocehan ngawur namun sarat makna itu, Cak Nun juga menyampaikan beberapa pesan yang penting kepada para hadirin. Paling tidak ada 20 pesan yang berhasil ku rangkum. 

Pertama, Kita harus bisa memilih dan memilah, mana perkara yang harus kita masukkan dalam otak, hati, dan tangan itu. Jangan sampai salah tempat.

Kedua, Orang yang diinjak-injak dan kere (miskin) itu terkadang lebih bermanfaat.

Ketiga, Wong iku oleh duwur –pangkate, tapi gak oleh nduwuri wong (orang itu boleh saja berpangkat tinggi, tapi nggak boleh menganggap remeh orang). Sebuah kritik terhadap para pejabat-pejabat yang terkadang sering meremehkan dan menyepelekan orang yang ada di bawahnya.

Keempat, Manusia itu bukan makhluk permanen, artinya dia bisa baik dan kadang juga bisa buruk. Jadi, jangan khawatir jika kita dicap buruk oleh orang.

Kelima, Tawakkal bisa dimaknai secara sederhana seperti ini; “mengurusi hal yang bisa diurus, dan kalau ada hal yang nggak bisa diurus, pasrahkanlah kepada Allah”. Artinya, kita cukup mengurus perkara yang sudah konkrit dan ada di depan mata saja. Perihal perkara yang masih belum jelas dan masih abstrak, cukup pasrahkan saja urusannya pada Allah. Yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambaNya.

Keenam, Setiap orang itu punya fadhilah (keutamaan). Jadi jangan minder dengan diri sendiri.

Ketujuh, Orang itu selalu melihat yang tinggi, dan menganggap bahwa yang tinggi dan berada di atas, itulah yang terbaik dan mulia. Padahal bukan seperti itu, karena semua sudah ada porsi dan jatahnya masing-masing. Contohnya saja, burung bisa terbang tinggi ke atas itu ya karna memang sudah kodratnya dia bisa begitu. Karna kan dia punya sayap. Makanya keliatan pantas dan baik. La sekarang, coba bayangin bagaimana kalau ayam, harimau, yang emang kodratnya berjalan di bawah –daratan, tapi disuruh terbang? Lantaran asumsi yang beredar bahwa yang terbang tinggi dan di atas itu baik. Apa nggak tambah menyeramkan dan menghawatirkan tuh? Itu baru ayam sama harimau. Coba kalau badak sama gajah yang terbang? :D

Kedelapan, Wajah itu perwakilan dari seluruh diri kita. “sing ngentut silite, tapi sing diwudhu-ni wajahe” (yang kentut dubur-nya, tapi yang diwudhu-in wajahnya). Kenapa? Ya karna orang itu menilai dari wajah kita kan, dan nggak mungkin dari dubur atau bagian anggota tubuh lain –selain wajah? :D

Kesembilan, Cahaya itu hanya terlihat di dalam kegelapan, bukan di tempat yang terang benderang. Artinya, ketika kita tidak masuk ke catatan ‘buku hitam’ yang penuh kegelapan dulu, mustahil kita akan tau dan mendapatkan penerangan (cahaya).

Kesepuluh, Pencipta lagu “syi’ir tanpa wathon” yang selama ini diklaim diciptakan oleh Gus Dur pun diluruskan oleh Cak Nun. Dikatakan bahwa sebenarnya yang menciptakan lagu itu adalah Kiai Sahlan dari Krian, Sidoarjo pada tahun 1950-an. Dan syi’ir itu muncul lantaran untuk menyaingi lagu ludruk yang sedang tenar waktu itu. hal ini disampaikan, tepat sebelum Kiai Kanjeng beraksi dengan membawakan tembang syi’ir tanpa wathon.

Kesebelas, “Jawa ayo digawa, Arab digarap, Barat diruwat” (Budaya Jawa mari kita bawa, Arab dikerjakan, Barat dipelihara). Sebuah pesan yang singkat, padat, jelas dan sarat makna tentang pentingnya menjaga budaya daerah dan Nusantara, tanpa menolak mentah-mentah juga terhadap budaya asing yang masuk. المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح”.

Keduabelas, perihal tema acara itu –Ashabul Kahfi, Cak Nun menyampaikan agar jangan sampai ada gua ashabul kahfi lagi di zaman sekarang. Pemuda ashabul kahfi yang ditidurkan oleh Allah, itu merupakan gambaran para pemuda yang tetap kekeh menjaga imannya, lantaran khawatir akan terseret situasi modernitas yang ada di dunia. Makanya mereka memilih untuk menyendiri dalam gua yang kemudian ditidurkan oleh Allah selama 300 tahun, ditambah 6 tahun.

Ketigabelas, Sunan Kalijaga itu peranannya paling banyak adalah dalam hal peralihan perpolitikan (dari Majapahit-Demak-Pajang-Mataram). Hal ini disampaikan Cak Nun, ketika beliau menceritakan bahwa orang-orang terkadang ada yang nyeletuk, dengan mengatakan bahwa ia adalah jelma’an dari Sunan Kalijaga. J

Keempatbelas, Ibadah itu yang mahdhah (wajib, murni) hanya 3,5%, sisanya 96,5% itu adalah mu’amalah.

Kelimabelas, Makin dekat seseorang dengan seseorang yang lain, maka semakin tidak ada etika di antara keduanya.

Keenambelas, Pelurusan antara Al-Qur’an dan Mushaf. Al-Qur’an yang asli dan terjaga itu berada di lauh mahfudz. Sedangkan yang ada di hadapan kita sekarang itu adalah mushaf.

Ketujuhbelas, Bid’ah itu hanya ada dalam ibadah mahdhah saja, bukan pada ibadah mu’amalah. Hal ini disampaikan, ketika ada salah satu ibu-ibu yang menanyakan tentang bid’ah kepada Cak Nun.

Kedelapanbelas, Kebohongan itu terkadang penting, pada saat-saat tertentu saja.

Kesembilanbelas, Pilihan hidup itu ada tiga: ijtihad, ittiba’, atau taqlid. Kita pilih sesuai kapasitas diri kita.

Keduapuluh, Jangan sampai ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi kedekatanmu dengan Allah.


Dokumentasi Acara


 Kiai Kanjeng ketika memulai penampilannya -sebelum Cak Nun masuk panggung


Cak Nun ketika baru masuk panngung, dan menyampaikan pesan-pesannya


Cak Nun ketika menyampaikan pesan-pesannya kepada para hadirin


Cak Nun dan Kiai Kanjeng ketika menyanyikan tembang 'syi'ir tanpa wathon'


Nah, itu tadi kurang lebih oleh-oleh dari Pengajian Akbar Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Niatnya sih, buat berbagi pengalaman saja. Silahkan disimpulkan sendiri, dan semoga bermanfaat… J


Jogja, 30 Maret 2013